Sergai,Sinarglobalnusantara.com-
Cita cita transformasi perkebunan negara seharusnya tidak hanya terdengar indah di ruang rapat, namun harus terlihat nyata di setiap baris tanaman, setiap jalan produksi, dan setiap buah sawit yang dipanen dari tanah negara. Namun, pemandangan berbeda justru ditemukan di PTPN IV Regional I Kebun Silau Dunia, tepatnya Afdeling II, yang secara geografis berdasarkan penelusuran Google Maps berada di wilayah Desa Pertambatan, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Hasil investigasi lapangan pada 27 Agustus 2026 menemukan sejumlah kondisi yang patut menjadi perhatian serius manajemen. Mulai dari dugaan ketidakseragaman perawatan tanaman menghasilkan (TM) yang diperkirakan berusia sekitar empat tahun, pengaplikasian tandan kosong (tankos) yang terlihat tidak merata, kondisi jalan pengumpul yang memprihatinkan, hingga buah sawit yang ditemukan membusuk di sekitar pokok.
Tentunya jika kondisi tersebut berlangsung secara luas dan berulang, maka muncul pertanyaan besar: sejauh mana standar pemeliharaan dan pengawasan telah berjalan di tingkat lapangan?
Sebab dalam bisnis perkebunan, tanaman tidak mengenal slogan. Pokok sawit hanya mengenal perawatan yang nyata, pupuk yang tepat, jalan yang layak, dan panen yang tidak terlambat.
Tankos Berlimpah di Pinggir Jalan, Teresan Seolah Terlupakan
Salah satu pemandangan yang cukup mencolok terlihat dari distribusi tankos, terlihat disekitar pokok sawit yang berada di pinggir jalan, ditemukan tankos berserakan dalam jumlah cukup banyak, bahkan terlihat material tankos yang diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan kilogram.

Namun ketika masuk lebih jauh menuju area tanaman, khususnya areal teresan, kondisi terlihat berbeda. Aplikasi tankos tampak tidak seragam dan pada sejumlah titik tidak terlihat adanya aplikasi sebagaimana yang ditemukan di bagian pinggir jalan. Pemandangan itu ibarat hujan yang hanya membasahi halaman depan, sementara ladang di belakang dibiarkan menunggu awan.

Jika distribusi material organik tersebut memang tidak merata, tentu perlu dipertanyakan bagaimana proses pengamprahan, penempatan, hingga pengawasan aplikasi tankos dilaksanakan.
Apakah pekerjaan tersebut telah sesuai dengan standar teknis perusahaan?
Atau terdapat persoalan mobilisasi material dan tenaga kerja yang membuat areal yang sulit dijangkau akhirnya tertinggal?
Pertanyaan itu penting karena tanaman menghasilkan yang diperkirakan baru berusia empat tahun merupakan aset produksi yang seharusnya mendapat perhatian serius.
Jalan Produksi Memprihatinkan, Urat Nadi Kebun Terancam Tersumbat
Masalah berikutnya adalah kondisi jalan pengumpul/pasar dan jalan penghubung menuju sejumlah blok. Dari hasil pantauan, beberapa ruas jalan terlihat dalam kondisi memprihatinkan dan dinilai menyulitkan mobilitas kendaraan roda dua maupun roda empat.

Padahal jalan merupakan urat nadi perkebunan. Tanpa jalan yang layak, proses pemeliharaan dapat terganggu. Begitu pula mobilisasi pekerja, pengangkutan sarana produksi hingga evakuasi hasil panen.
Pohon boleh tumbuh tinggi, tetapi tanpa jalan yang berfungsi baik, hasilnya bisa tertahan di tengah kebun.apalagi dalam industri kelapa sawit, keterlambatan pengangkutan bukan perkara kecil. Buah yang sudah matang membutuhkan penanganan cepat agar tetap memiliki nilai produksi optimal,jika tidak kadar Asam Lemak Bebas (ALB) Meningkat, semakin lama buah dibiarkan setelah dipanen, enzim di dalam buah akan aktif merusak minyak. Kadar ALB naik sekitar 0,1% setiap 24 jam, dan akan naik lebih cepat jika buah mengalami memar atau luka. Karena itu, kondisi jalan tersebut patut menjadi bahan evaluasi manajemen.
Teresan Dipenuhi Gulma, Tanaman Seolah Bertarung Sendirian
Pemandangan semakin memprihatinkan ketika investigasi memasuki areal teresan. Tanaman menghasilkan yang diperkirakan berusia sekitar empat tahun tampak berada di tengah vegetasi liar yang cukup lebat. Rumput liar, termasuk tumbuhan berduri, terlihat mengelilingi sejumlah pokok.
Kondisi seperti ini bukan hanya menyangkut estetika kebun. Areal yang terlalu lebat berpotensi menyulitkan aktivitas pemeliharaan, pemanenan, pengawasan tanaman, hingga mobilisasi pekerja.
Lebih jauh, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan tersendiri ketika buah telah matang dan harus segera dikeluarkan dari dalam blok. Kebun yang semestinya menjadi mesin produksi jangan sampai berubah menjadi belantara yang menyembunyikan potensi kehilangan hasil. Dan temuan di lapangan semakin mempertegas kekhawatiran tersebut.
Buah Sawit Membusuk di Bawah Pokok,Produksi Terbuang di Depan Mata
Di sekitar pokok sawit ditemukan buah yang tidak dipanen hingga mengalami pembusukan. Temuan ini menjadi salah satu bagian paling serius dari investigasi.

Sebab buah sawit merupakan produk utama yang menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Ketika buah matang tidak segera dipanen dan akhirnya membusuk, maka nilai ekonominya berpotensi hilang begitu saja.
Di saat perusahaan dituntut mengejar produktivitas, membiarkan buah produksi membusuk di bawah pokok tentu menjadi pemandangan yang ironis.
Satu tandan mungkin terlihat kecil,namun terlihat banyak tandan yang membusuk di bawah pohon, namun jika kejadian serupa berlangsung di banyak pokok dan berulang dari waktu ke waktu, akumulasinya dapat menjadi kehilangan produksi yang tidak kecil.
Karena itu, kondisi tersebut perlu dijelaskan secara terbuka: apakah buah tersebut tertinggal karena persoalan ancak panen, kondisi jalan, keterbatasan tenaga panen, keterlambatan pengangkutan, atau faktor teknis lainnya?
Askep Rayon A Bungkam, Konfirmasi WhatsApp Tiga Hari Tak Berjawab
Upaya memperoleh klarifikasi dari pihak manajemen di tingkat lapangan juga telah dilakukan.
Wartawan Sinarglobalnusantara.com telah menghubungi Asisten Kepala (Askep) Rayon A Kebun Silau Dunia PTPN IV Regional I, Zulkarnain Nasution, melalui pesan WhatsApp untuk meminta penjelasan terkait sejumlah temuan investigasi di Afdeling II.
Namun sayangnya, konfirmasi terkait kondisi tanaman menghasilkan,dan distribusi tankos,serta pengendalian gulma, hingga kondisi jalan produksi, serta temuan buah sawit yang membusuk di bawah pokok, tak terjawab hingga berita ini diterbitkan, padahal waktu konfirmasi telah berjalan 3 hari.
PalmCo dan Cita-Cita Transformasi: Jangan Sampai Hanya Menjadi Slogan
Sorotan terhadap kondisi lapangan Kebun Silau Dunia menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan semangat transformasi dan penguatan bisnis kelapa sawit melalui PTPN IV PalmCo.
Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Jatmiko Krisna Santoso, transformasi perusahaan perkebunan negara tentu diharapkan mampu menghadirkan tata kelola yang semakin profesional, efisien, produktif, dan berorientasi pada optimalisasi aset.
Sebagai bagian dari ekosistem BUMN di bawah pembinaan Kementerian BUMN, cita-cita tersebut semestinya tidak berhenti pada perubahan struktur organisasi maupun penyatuan entitas.
Transformasi sejati harus terasa sampai ke tanah.Ia harus terlihat dari tanaman yang terawat, pupuk yang tepat sasaran, jalan produksi yang terbuka, panen yang disiplin, dan tidak adanya buah yang terbuang sia-sia.
Jangan sampai PalmCo berbicara tentang produktivitas dan efisiensi, sementara di lapangan masih ditemukan persoalan mendasar yang berpotensi menggerus produktivitas. Sebab merger boleh menyatukan perusahaan, tetapi hanya kinerja lapangan yang mampu menyatukan cita-cita dengan kenyataan.
Aset Negara Tak Boleh Dibiarkan Berjalan dengan Setengah Napas
Kebun Silau Dunia hendaknya bukan sekadar hamparan pohon sawit. Di balik setiap pokok terdapat aset negara, investasi, tenaga kerja, biaya pemeliharaan, serta harapan terhadap penerimaan dan kinerja perusahaan.Karena itu, setiap persoalan di lapangan layak mendapatkan perhatian.
Ketika tankos terlihat menumpuk di satu lokasi sementara area lain diduga belum tersentuh, ketika jalan produksi sulit dilalui, ketika gulma menutupi areal tanaman, dan ketika buah produksi ditemukan membusuk, maka lonceng evaluasi seharusnya berbunyi. Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Tetapi untuk memastikan apakah sistem pengawasan benar-benar bekerja.
Dirut PTPN IV Jatmiko K Santoso dan Manajemen Diminta Tidak Menutup Mata
Temuan ini sekaligus menjadi momentum bagi Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisna Santoso beserta Manajemen PTPN IV Regional I untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi Afdeling II Kebun Silau Dunia.
Mulai dari sistem pemeliharaan tanaman, distribusi dan aplikasi tankos, pengendalian gulma, kondisi jalan produksi, sistem panen, hingga pengangkutan hasil perlu dipastikan berjalan sesuai standar operasional perusahaan, terlebih di tengah cita-cita besar transformasi PalmCo.
Jangan biarkan cita-cita besar berhenti di atas kertas, sementara realitas kecil di bawah pokok justru luput dari perhatian. Karena pada akhirnya, keberhasilan transformasi bukan diukur dari seberapa megah narasi yang dibangun, melainkan dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan di lapangan. Dan Afdeling II Kebun Silau Dunia kini seolah mengirimkan satu pesan sederhana:
Jika ingin mengejar produktivitas, jangan biarkan kebun kehilangan perhatian. Jika ingin berbicara tentang efisiensi, jangan biarkan produksi membusuk di bawah pokok. Dan jika ingin membawa nama besar PalmCo, pastikan denyut transformasinya benar-benar terasa sampai ke setiap jengkal kebun.(SGN/R01)















































Discussion about this post