Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Persoalan tanaman kelapa sawit yang mati di areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Afdeling VI PTPN IV Regional II Unit Kebun Bukit Lima semakin rancau, setelah sebelumnya menjadi sorotan akibat ditemukannya ratusan tanaman muda yang mati diduga karena kurang perawatan dan terhimpit gulma, kini muncul persoalan baru yang tak kalah serius.Dimana penyisipan tanaman pada titik-titik TBM yang mati diduga menggunakan bibit lelesan atau cabutan tak resmi yang diduga diambil dari anakan sawit yang tumbuh sembarangan.
Jika dugaan tersebut benar, persoalannya bukan lagi sekadar tentang tanaman yang mati. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana sistem pengawasan, pengendalian mutu bibit dan pelaksanaan pemeliharaan TBM dijalankan di tingkat lapangan.
Adapun areal yang menjadi sorotan berada di Afdeling VI Kebun Bukit Lima, secara geografis di Nagori Jawa Baru, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun. Kondisi ini sekaligus menempatkan kinerja manajemen kebun Bukit Lima di bawah pengawasan General Manajer Distrik I Bahjambi Masaeli Lahagu dinilai buruk.
Terlebih, PTPN IV PalmCo di bawah kepemimpinan Direktur Utama Jatmiko Krisna Santoso tengah mendorong berbagai langkah transformasi, termasuk Operational Excellence dan digitalisasi, dengan tujuan memperkuat pengawasan operasional hingga ke level unit terkecil.
Pertanyaannya kemudian sederhana tetapi mendasar: Jika pengawasan sudah diperkuat, mengapa tanaman muda bisa mati dalam jumlah besar dan kemudian muncul dugaan penyisipan menggunakan bibit yang bukan berasal dari pembibitan resmi perusahaan?
Bukan Sekadar Bibit, Ini Menyangkut Masa Depan Investasi
Tanaman Belum Menghasilkan bukan sekadar tanaman yang belum menghasilkan buah.Di balik setiap batang sawit muda terdapat biaya pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian gulma, tenaga kerja, pemeliharaan, hingga investasi waktu bertahun-tahun sebelum tanaman memasuki masa menghasilkan.
Karena itu, ketika tanaman mati, persoalannya tidak berhenti pada hilangnya satu batang atau ratusan tanaman.Ada investasi yang ikut dipertaruhkan. Lebih jauh lagi, apabila tanaman mati kemudian diganti dengan bibit yang kualitas dan asal-usulnya tidak jelas, maka perusahaan perlu memastikan apakah tindakan tersebut sesuai dengan standar teknis, ketentuan pengadaan, serta prosedur penyisipan tanaman yang berlaku.
Sebab menutup lubang tanaman mati dengan bibit apa saja bukanlah solusi apabila kualitas bahan tanam justru menjadi persoalan baru. Bibit unggul membutuhkan standar. Asal-usulnya harus jelas. Kualitasnya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Dugaan Bibit Lelesan Memunculkan Tanda Tanya
Dari informasi dan temuan yang menjadi dasar pemberitaan ini, terdapat dugaan bahwa sebagian penyisipan tanaman mati menggunakan bibit lelesan atau tanaman cabutan yang tumbuh di sekitar areal perkebunan, dan apabila benar terdapat penggunaan bibit tidak resmi, maka pertanyaan berikutnya patut diajukan:
Dari mana bibit tersebut diperoleh?
Siapa yang menginstruksikan penggunaannya?
Apakah bibit tersebut telah melalui pemeriksaan kualitas?
Apakah terdapat dokumen asal-usul bibit?
Apakah penyisipan tersebut tercatat dalam administrasi pemeliharaan?
Dan yang paling penting, apakah penggunaan bibit tersebut sesuai dengan standar teknis PTPN IV PalmCo?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar persoalan tidak berhenti sebagai isu lapangan. Sebab dalam perkebunan, kualitas tanaman hari ini akan menentukan produktivitas belasan bahkan puluhan tahun ke depan.
Konfirmasi Manajer: Bibit Sisipan Agar Diambil dari Bah Jambi
Menanggapi persoalan tersebut, wartawan telah melakukan konfirmasi kepada Manajer Kebun Bukit Lima , Mugianto, melalui pesan WhatsApp pada Minggu (16/08/2026). Manajer memberikan jawaban singkat. “Sudah saya instruksikan untuk menghitung kembali kebutuhan bibit. Sisipan agar diambil ke Pembibitan Bah Jambi,” ujar Manajer dalam pesan tanggapannya.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena menunjukkan adanya instruksi dari pihak manajemen kebun agar kebutuhan bibit sisipan dihitung kembali dan pengadaannya diarahkan ke pembibitan Bah Namun apakah jawaban tersebut benar sebuah kebenaran atau hanya jawaban formalitas demi menutupi buruknya sistem kerja dilapangan.
Buktinya dilapangan jelas terlihat penyisipan menggunakan bibit lelesan, sehingga jika benar ada instruksi manajer demikian maka diduga hanya instruksi berada di atas meja, sementara praktik di lapangan berjalan dengan cara berbeda. Di sinilah fungsi pengawasan menjadi sangat penting.
Terobosan Operational Excellence Jangan Berhenti di Atas Kertas
PTPN IV PalmCo membawa agenda besar untuk memperkuat kinerja operasional, termasuk melalui Operational Excellence dan digitalisasi. Konsep tersebut semestinya tidak hanya terdengar dalam ruang rapat atau menjadi bagian dari dokumen transformasi perusahaan. Ia harus terlihat sampai ke tengah kebun.terlihat dari tanaman yang terawat. terlihat dari pengendalian gulma, terlihat dari kualitas bibit, terlihat dari pencatatan tanaman mati,terlihat dari penyisipan yang sesuai standar, dan terlihat dari kemampuan manajemen mendeteksi persoalan sebelum berubah menjadi kerugian.
Sebab digitalisasi tanpa pengawasan lapangan hanya akan menjadi angka-angka di layar. Operational Excellence tanpa eksekusi hanya akan menjadi slogan.Kebun adalah tempat pembuktian sesungguhnya.
Sebelumnya, Ratusan TBM Mati Telah Disorot
Sebelumnya, Sinarglobalnusantara.com telah memberitakan persoalan serupa melalui berita berjudul: “Tamparan Keras bagi PTPN IV PalmCo, GM Distrik I, Manajer dan Askep Harus Tanggung Jawab Ratusan TBM Mati Diduga Terbengkalai di Afdeling VI Bukit Lima.”
Dalam pemberitaan tersebut, hasil peninjauan lapangan pada Jumat, 14 Agustus 2026, menemukan sebagian areal TBM terlihat dipenuhi gulma dan tanaman liar.
Sejumlah tanaman kelapa sawit muda tampak tidak tumbuh optimal, sementara sebagian lainnya terlihat mati.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pemeliharaan, pengendalian gulma, penyulaman, kualitas bibit, kondisi tanah, hama, penyakit tanaman maupun faktor teknis lainnya. Namun seluruh kemungkinan tersebut tentu harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis.
Satu tanaman mati belum tentu menunjukkan kegagalan manajemen. Tetapi jika jumlahnya mencapai ratusan dan kemudian muncul persoalan mengenai penyisipan, maka pemeriksaan menyeluruh menjadi sesuatu yang sulit diabaikan.
GM Distrik dan Jajaran Kebun Harus Bertanggungjawab dan Perlu Turun ke Lapangan
Sorotan ini bukan dimaksudkan sebagai vonis terhadap GM Distrik I Masaeli Lahagu,dan Manajer Kebun Bukit Lima maupun jajaran Askep dan Asisten Afdeling, namun sebagai pemegang tanggung jawab manajerial, mereka perlu memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai standar.
Karena itu, manajemen PTPN IV Regional II layak melakukan pemeriksaan langsung.
Hitung berapa tanaman yang mati.
Petakan titik kematiannya.
Periksa penyebabnya.
Telusuri sumber bibit.
Periksa kualitas bibit sisipan.
Cocokkan dengan administrasi penyulaman.
Periksa pelaksanaan pemeliharaan.
Dan jika ditemukan ketidaksesuaian, lakukan evaluasi sesuai ketentuan perusahaan.
Jangan sampai tanaman mati hanya dihitung sebagai angka, sementara penyebabnya tidak pernah benar-benar dicari.
Jangan Sampai Masalah Ditutup dengan Tanaman Baru
Penyisipan memang diperlukan ketika tanaman mati.Tetapi penyisipan tidak boleh sekadar menjadi cara cepat untuk menutup titik kosong di lapangan. Jika tanaman mati karena gulma, maka gulmanya harus ditangani. Jika karena hama, sumber serangannya harus dicari. Jika karena kualitas bibit, kualitas bahan tanam harus dievaluasi. Jika karena kesalahan teknis, prosedur pemeliharaan harus diperbaiki.Dan jika terdapat persoalan manajerial, maka sistem pengawasannya yang harus Namun apabila ada dugaan korupsi dengan tidak menyalurkan anggaran biaya perawatan maka perlu dilakukan audit.
PTPN IV PalmCo Diminta Jangan Menunggu Persoalan Membesar
Pimpinan PTPN IV PalmCo dan PTPN IV Regional II dinilai perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Inspeksi mendadak ke Afdeling VI menjadi langkah yang patut dipertimbangkan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan. Jangan hanya mengandalkan laporan dari meja.
Turun ke kebun.
Lihat tanaman.
Periksa bibit.
Tanya pekerja.
Cek dokumen.
Bandingkan laporan dengan kondisi nyata.
Sebab terkadang jarak antara laporan dan kenyataan hanya beberapa kilometer—tetapi dampaknya bisa bernilai sangat besar.
Kebun tidak bisa dibohongi oleh laporan yang terlalu indah. Tanaman akan menunjukkan sendiri bagaimana ia diperlakukan.
Sinarglobalnusantara.com tetap membuka ruang seluas-luasnya kepada PTPN IV PalmCo, PTPN IV Regional II, GM Distrik I Masaeli Lahagu, Manajer Kebun Bukit Lima, Askep maupun pihak terkait untuk memberikan klarifikasi, data, dokumen, hasil pemeriksaan teknis dan penjelasan mengenai kondisi TBM Afdeling VI.
Karena pemberitaan ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan mendorong agar persoalan yang menyangkut tanaman, investasi dan aset perusahaan dapat diperiksa secara terbuka dan profesional.
Sebab tanaman sawit muda adalah janji masa depan. Jika sejak masa mudanya dibiarkan merana, jangan sampai ketika waktunya panen tiba, yang dipanen justru adalah penyesalan.(SGN/TS/R01)













































Discussion about this post