Solo, Sinarglobalnusantara.com-
Dari tanah Simalungun menuju Kota Solo, sebuah pertemuan membawa pesan tentang masa depan pembangunan. Gomak Purba, keturunan Raja Purba dari Kabupaten Simalungun, berkunjung ke kediaman Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Di balik perjumpaan itu terselip harapan agar pembangunan yang telah dirintis tidak berhenti di tengah jalan, melainkan terus dilanjutkan demi membuka pintu kemajuan bagi masyarakat Sumatera, khususnya Simalungun dan kawasan Danau Toba.
Dalam pertemuan tersebut, Gomak Purba menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepemimpinan Joko Widodo selama 10 tahun. Menurutnya, sejumlah pendekatan dalam kepemimpinan Jokowi, terutama keberanian mengambil keputusan, konsistensi menjalankan pembangunan serta perhatian terhadap infrastruktur, masih relevan dalam konteks pembangunan Indonesia saat ini.
“Menurut saya, gaya kepemimpinan Pak Jokowi masih layak diterapkan. Kepemimpinan yang berani mengambil keputusan, fokus pada pembangunan dan melihat kebutuhan masyarakat secara langsung tetap dibutuhkan Indonesia saat ini,” ujar Gomak kepada wartawan saat pulang ke Simalungun.
Baginya, pembangunan ibarat menanam pohon. Tidak cukup hanya menabur benih, kemudian meninggalkannya. Pohon harus dirawat, disiram dan dijaga hingga tumbuh besar serta memberikan buah bagi masyarakat.
Demikian pula pembangunan infrastruktur. Ketika sebuah program strategis telah dimulai dan manfaatnya mulai dirasakan masyarakat, kesinambungannya menjadi hal penting agar pembangunan tidak kembali menjadi sekadar janji yang tertulis di atas kertas.
Bahas Tol Siantar–Parapat, Jalan Panjang Menuju Gerbang Danau Toba
Salah satu perhatian utama Gomak adalah keberlanjutan pembangunan infrastruktur jalan tol di Sumatera, khususnya konektivitas dari Medan menuju Pematangsiantar, Parapat hingga kawasan Danau Toba.
Menurutnya, pembangunan konektivitas Siantar–Parapat memiliki arti strategis. Bukan semata-mata tentang beton, aspal dan panjang jalan, tetapi tentang membuka urat nadi ekonomi masyarakat.
“Pembangunan jalan tol jangan hanya dilihat sebagai proyek konstruksi. Ini merupakan bagian dari strategi membuka akses ekonomi masyarakat. Khususnya Siantar-Parapat, konektivitas yang semakin baik akan memberikan dampak besar bagi pariwisata Danau Toba, pertanian, perdagangan dan investasi di Simalungun,” katanya.
Jalan, dalam perspektif pembangunan, bukan sekadar tempat kendaraan melintas. Jalan adalah jembatan antara harapan dan kesempatan.
Ketika akses semakin terbuka, hasil pertanian dapat lebih cepat menuju pasar, wisatawan lebih mudah mencapai destinasi, distribusi barang menjadi lebih efisien, dan peluang investasi semakin terbuka.
Karena itu, konektivitas Siantar–Parapat dinilai tidak boleh dipandang sebelah mata. Kawasan tersebut merupakan salah satu pintu menuju Danau Toba yang memiliki potensi pariwisata dan ekonomi besar.
“Jalan yang baik bukan hanya mempersingkat jarak, tetapi juga memperpendek jalan masyarakat menuju kesejahteraan.” ujarnya.
Pembangunan Jangan Berhenti Karena Pergantian Pemerintahan
Gomak menegaskan, pembangunan infrastruktur tidak semestinya berhenti hanya karena terjadi pergantian pemerintahan.
Menurutnya, setiap pemerintahan tentu memiliki kebijakan dan prioritas masing-masing. Namun, program pembangunan strategis yang terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat perlu dilanjutkan, dievaluasi dan disempurnakan.
Ia menilai pembangunan harus memiliki kesinambungan sebagaimana sebuah perjalanan panjang. Pergantian pengemudi tidak berarti kendaraan harus berhenti di tengah jalan.
“Pembangunan yang sudah baik jangan dihentikan. Lanjutkan, evaluasi dan sempurnakan,” tegasnya.
Harapan tersebut menjadi semakin penting bagi daerah-daerah yang masih membutuhkan penguatan konektivitas. Sebab, ketimpangan akses infrastruktur dapat menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Bagi masyarakat Simalungun, pembangunan infrastruktur bukan hanya persoalan proyek pemerintah, tetapi menyangkut masa depan anak cucu.
Sebab, jalan yang dibangun hari ini mungkin baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian, tetapi manfaatnya dapat diwariskan jauh lebih lama daripada umur sebuah pemerintahan.
Simalungun: Antara Sejarah, Budaya dan Masa Depan
Sebagai keturunan Raja Purba, Gomak juga menaruh perhatian terhadap keberadaan sejarah dan identitas budaya Simalungun.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar sejarahnya.
“Kita ingin pembangunan maju, tetapi sejarah dan identitas daerah juga harus tetap dijaga. Simalungun memiliki sejarah panjang, potensi pertanian dan pariwisata yang besar. Pemerintah pusat perlu melihat potensi tersebut sebagai bagian dari kekuatan pembangunan nasional,” ujarnya.
Pembangunan dan kebudayaan, menurutnya, bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.
Kemajuan tanpa akar akan mudah tumbang, sementara tradisi tanpa ruang untuk berkembang akan sulit bertahan.
Karena itu, pembangunan kawasan Simalungun dan Danau Toba idealnya tidak hanya menghadirkan infrastruktur modern, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat lokal serta menjaga warisan budaya yang menjadi identitas daerah.
Pesan dari Solo untuk Sumatera
Pertemuan Gomak Purba dengan Joko Widodo di Solo akhirnya menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Simalungun secara langsung.
Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya Jawa itu, pesan tentang pembangunan Sumatera kembali digaungkan: agar pembangunan tidak berjalan seperti ombak yang datang lalu surut, tetapi menjadi arus yang terus bergerak membawa perubahan.
Gomak berharap pemerintah saat ini tetap menjaga kesinambungan pembangunan infrastruktur sekaligus memperkuat pemerataan pembangunan di Sumatera.
Ia menilai, Sumatera memiliki potensi besar yang tidak boleh dibiarkan berjalan dengan kecepatan yang berbeda-beda.
“Pesan saya sederhana. Pembangunan yang sudah baik jangan dihentikan. Lanjutkan, evaluasi dan sempurnakan. Sumatera, khususnya Simalungun dan kawasan Danau Toba, harus mendapatkan konektivitas yang semakin baik,” pungkas Gomak Purba.
Pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar tentang seberapa panjang jalan yang berhasil dibangun, tetapi seberapa jauh jalan itu mampu mengantarkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Sebab, jalan boleh terbuat dari beton dan aspal, tetapi makna sesungguhnya adalah harapan yang dibawa oleh setiap orang yang melintasinya.(SGN/RP)













































Discussion about this post