Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Di saat petani berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan masa tanam, pupuk subsidi yang seharusnya menjadi penopang utama produksi justru lenyap tanpa jejak di Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Bukan sekadar langka, namun dilapangan, pupuk seolah “hilang”. Petani kini berada di titik kritis. Fase pemupukan kedua sedang berlangsung, fase yang menentukan hidup-matinya hasil panen. Namun yang mereka temukan bukan pupuk, melainkan kekosongan dan ketidakpastian.
“Ini bukan lagi susah, ini sudah parah. Kami cari ke mana-mana pupuk subsidi nggak ada.Kalau menggunakan pupuk non subsidi kami gak mampu, harga per sak nya diatas 500.000 rupiah,jika dibandingkan dengan harga gabah saat ini sudah pasti tidak untung, kalau pun untung tidak memadai lah.Ini kami petani sudah sangat khawatir soal pupuk ini, karena ini sudah waktu pemupukan. Kalau begini terus, bisa gagal panen kami,” ujar seorang petani di Desa Si Merbau dengan nada geram.
Situasi ini bukan hanya memukul produktivitas, tapi juga mengancam penghidupan ribuan petani. Di tengah harga kebutuhan yang terus naik, pupuk subsidi justru menghilang dari peredaran menyisakan pertanyaan besar yang tak kunjung terjawab. Lebih mengejutkan lagi, kekosongan tidak hanya terjadi di tingkat petani. Seorang pemilik kios pupuk di wilayah Ujung Padang yakni UD Mancung, mengungkap fakta yang memperkeruh keadaan bahwa stok di tingkat pengecer nihil.
“Kami sudah pesan dari sebelum puasa. Sampai sekarang belum masuk. Informasinya, kosong di gudang besar Siantar,” ujarnya dari seberang telepon saat di konfirmasi wartawan melalui panggilan WhatsApp pada hari Selasa
Jika benar gudang besar di Pematangsiantar kosong, maka ini bukan lagi persoalan biasa. Ini sinyal bahaya: ada dugaan yang tidak beres dalam sistem distribusi pupuk subsidi yang selama ini diklaim ketat dan terkontrol. Ini tentu menjadi sebuah pertanyaannya tajam, bagaimana mungkin barang yang diatur negara bisa “hilang” sampai ke hulunya?
Dalam skema resmi, pupuk subsidi didistribusikan melalui rantai yang diawasi dari produsen, distributor, hingga kios resmi berdasarkan data kebutuhan petani. Secara teori, celah seharusnya minim. Namun fakta di lapangan berkata lain.
Terkait sulitnya masyarakat mendapatkan pupuk subsidi,salah satu aktivis pertanian lokal berkomentar melalui media ini, T Sinambela menyebut kondisi ini sebagai “penyakit kronis” yang terus berulang setiap musim tanam. “Persoalan pupuk ini sudah sering terjadi di Ujung Padang ini, kadang langka, kadang harga subsidi pun tetap mencekik leher petani dan diatas HET, kalau ini terjadi terus, jangan lagi bilang ini masalah teknis. Ini patut diduga ada permainan. Entah di distributor, atau bisa juga kelalaian PT Pupuk Indonesia selaku Produsen”, tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Desri Tani selaku distributor pupuk subsidi untuk wilayah kecamatan Ujung Padang belum berhasil di konfirmasi, namun media ini akan berupaya lakukan konfirmasi dalam waktu dekat demi mengetahui kendala pendistribusian pupuk subsidi.Akan tetapi menghilangnya pupuk subsidi ini, juga memunculkan dugaan berbagai hal, kemungkinan adanya dugaan penimbunan, pengalihan ke pasar non-subsidi, hingga praktik “main mata” dalam distribusi, dugaan dugaan tersebut mulai mencuat di tengah masyarakat. Meski belum terbukti, pola kelangkaan yang berulang memperkuat kecurigaan publik.
Kini, sorotan mengarah ke Aparat Penegak Hukum dan Pemerintah Daerah, selain itu legislatif juga tidak boleh berpangku tangan atas keluhan masyarakat ini, Komisi II DPRD Simalungun tentu harus mulai bergerak menindaklanjuti polemik ini. Namun publik menuntut lebih dari sekadar gerakan administratif. Petani tidak butuh rapat. Mereka butuh pupuk.
Jika persoalan ini kembali berakhir tanpa kejelasan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen tetapi juga kepercayaan terhadap sistem distribusi subsidi yang selama ini digadang-gadang berpihak pada petani.Di tengah ladang yang mulai menguning tanpa nutrisi, satu pertanyaan menggema semakin keras: Apakah pupuk subsidi benar-benar langka atau sengaja dilangkakan?.(SGN/TS)













































Discussion about this post