Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kecerdasan buatan, tuntutan akademik, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang tak selalu terlihat oleh mata. Di balik layar laptop, tumpukan tugas, revisi skripsi, dan aktivitas organisasi, ada pergulatan mental yang tidak boleh diabaikan.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan HMP Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat, 2 Oktober 2026.
Mengangkat tema “Menyongsong Generasi Emas 2045: Sinergi Kesehatan Mental, Prestasi Akademik, dan Kemandirian Ekonomi di Era Society 5.0,” kegiatan tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom dan disiarkan melalui Instagram.
Salah satu pembicara, Nuzulul Azmi, S.Pd., CBC., CTRS., CCLS., CCHS., hadir membawa pesan penting melalui materi “Optimalisasi Kesehatan Mental dan Pengembangan Diri Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Akademik di Era Digital.”
Kegiatan tersebut diselenggarakan Muhammad Ikram bersama pengurus HMP Bimbingan dan Konseling FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Webinar dibuka oleh Supriadi, M.Pd., Ph.D., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Kehadiran pimpinan program studi sekaligus menjadi bagian dari upaya membuka ruang edukasi dan dialog mengenai kesehatan mental, pengembangan potensi diri, serta kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan zaman yang bergerak semakin cepat.
Mental Sehat Bukan Musuh Prestasi
Dalam paparannya, Nuzulul menegaskan bahwa membangun generasi emas tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik.
Menurutnya, kesehatan mental, prestasi akademik, dan kemandirian ekonomi merupakan tiga fondasi yang saling berkaitan.
Mahasiswa membutuhkan kondisi psikologis yang sehat agar mampu belajar, mengambil keputusan, membangun relasi, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan masa depan secara optimal.
Ia menyoroti berbagai tekanan yang saat ini dihadapi mahasiswa. Mulai dari beban tugas, revisi skripsi, tuntutan IPK, persoalan finansial, tekanan keluarga, kecemasan terhadap masa depan, hingga budaya membandingkan diri melalui media sosial.
Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat berubah menjadi beban yang perlahan menggerus konsentrasi, motivasi, relasi sosial, bahkan keberlangsungan pendidikan.
“Kesehatan mental bukan lawan prestasi, melainkan bahan bakarnya,” menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan Nuzulul.
Ia menjelaskan bahwa tekanan dalam kadar tertentu memang dapat menjadi pemicu seseorang untuk berkembang. Namun, tekanan yang berlebihan justru dapat menjadi badai yang mengaburkan arah perjalanan.
Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kesehatan mental berada dalam sebuah spektrum. Kondisi seseorang tidak selalu dapat dikotakkan secara sederhana sebagai sehat atau sakit.
Ada saat ketika seseorang masih mampu menjalankan aktivitas dengan baik. Namun, ada pula kondisi ketika tekanan mulai mengganggu tidur, pola makan, prestasi akademik, hubungan sosial, hingga memasuki kondisi krisis yang membutuhkan bantuan profesional.
Jangan Tunggu Hancur untuk Mulai Merawat Diri
Nuzulul mendorong mahasiswa agar tidak menunggu sampai berada pada titik terendah untuk mulai memperhatikan kesehatan mental.
Merawat diri, menurutnya, dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti mengenali emosi, mengatur pernapasan, menjaga kualitas tidur, melakukan aktivitas fisik, berbicara dengan orang yang dipercaya, membatasi paparan digital, memperkuat spiritualitas, hingga mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Sebab, tidak semua luka terlihat. Tidak semua perjuangan terdengar. Dan tidak semua mahasiswa yang tersenyum sedang baik-baik saja.
Selain kesehatan mental, mahasiswa juga didorong untuk membangun self-development secara terarah.
Nuzulul memperkenalkan enam pilar pengembangan diri, yakni mengenali diri, menetapkan tujuan dengan prinsip SMART, mengelola waktu, belajar secara efektif, membangun kebiasaan kecil secara konsisten, serta mengembangkan growth mindset.
Dalam konteks akademik, ia mengingatkan bahwa produktif tidak selalu berarti sibuk.
Banyaknya aktivitas belum tentu menunjukkan keberhasilan apabila seseorang justru semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai.
Mahasiswa perlu belajar membedakan mana yang penting, mana yang mendesak, serta mana yang sekadar menguras energi tanpa memberikan dampak berarti.
Organisasi: Laboratorium Kehidupan Mahasiswa
Nuzulul juga menyoroti peran organisasi kemahasiswaan sebagai ruang pembentukan karakter dan soft skill.
Organisasi, menurutnya, dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi mahasiswa untuk belajar kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, pemecahan masalah, empati, integritas, ketahanan mental, serta membangun jejaring.
Namun, organisasi juga harus dikelola secara sehat. Pembagian tugas yang tidak adil, budaya organisasi yang terlalu menekan, rapat yang tidak efektif, serta aktivitas berlebihan dapat berubah menjadi sumber kelelahan apabila tidak diimbangi dengan tanggung jawab akademik dan kebutuhan pribadi. Karena itu, mahasiswa perlu belajar mengenali batas kemampuan dirinya.
Berani mengatakan “tidak” bukan berarti lemah. Terkadang, mengatakan “tidak” adalah bentuk keberanian untuk mengatakan “ya” kepada kesehatan diri sendiri.
Society 5.0 Bukan Hanya Soal Teknologi
Lebih jauh, Nuzulul menghubungkan kesiapan mahasiswa dengan tantangan Society 5.0.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi digital, kemampuan manusiawi justru semakin memiliki nilai strategis.
Empati, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi digital, kemampuan beradaptasi, hingga kewirausahaan menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia profesional.
Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus mampu menjadi manusia yang memiliki karakter dan mampu menggunakan teknologi secara bijak.
Di sinilah organisasi kemahasiswaan dinilai dapat memainkan peran penting sebagai ruang untuk melatih kemampuan tersebut. Menuju Indonesia Emas Dimulai dari Mahasiswa yang Sehat
Dalam bagian penutup, Nuzulul merangkum tiga pesan utama kepada peserta webinar.
Pertama, kesehatan mental merupakan fondasi prestasi dan perlu dirawat sejak dini.
Kedua, pengembangan diri harus dilakukan secara terarah dan konsisten.
Ketiga, organisasi kemahasiswaan harus menjadi ruang pengembangan karakter dan soft skill tanpa mengorbankan kesehatan maupun tanggung jawab akademik.
Ia juga mengajak mahasiswa agar tidak terjebak dalam tuntutan untuk selalu menjadi sempurna.
Mahasiswa perlu belajar mengenali kapasitas diri, merawat kesehatan mental, mengembangkan potensi, dan memiliki keberanian untuk terus bertumbuh.
“Kamu tidak harus sempurna untuk berharga. Sehatkan jiwamu, kembangkan dirimu, ayo mari kita tumbuhlah bersama,” menjadi pesan penutup Nuzulul kepada para peserta.
Pesan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun dengan angka IPK, gelar akademik, maupun kemampuan menguasai teknologi.
Di balik generasi emas, ada manusia yang harus tetap dijaga. Sebab, sehebat apa pun teknologi berkembang, masa depan tetap membutuhkan manusia yang sehat jiwanya, kuat karakternya, luas empatinya, dan berani terus belajar.
Webinar nasional tersebut akhirnya menjadi ruang refleksi bahwa menghadapi Society 5.0 bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara pikiran, prestasi, karakter, dan kehidupan.
Generasi emas bukan hanya generasi yang pintar menggunakan teknologi. Generasi emas adalah generasi yang mampu menyalakan masa depan tanpa membakar dirinya sendiri.(SGN/Rizki)














































Discussion about this post