Aceh Utara, Sinarglobalnusantara.com-
Menjelang puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan digelar pada Senin sore, 5 Oktober 2026, suasana penuh kebersamaan terasa di Gampong Moncrang, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara.
Sejak pagi, masyarakat bersama aparat desa menggelar gotong royong massal sebagai bentuk persiapan menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meunasah dan lingkungan sekitarnya dibersihkan, dirapikan, serta dipersiapkan agar seluruh rangkaian kegiatan Maulid dapat berlangsung dengan khidmat dan nyaman.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa (Geusyik) Marjani, semangat gotong royong tampak begitu kuat. Pemuda, tokoh agama, kaum ibu hingga para orang tua bahu-membahu mengambil bagian. Tidak ada sekat antara aparat desa dan masyarakat; semuanya larut dalam satu pekerjaan dan satu niat.
Aparat Desa Gampong Moncrang juga turun langsung ke lapangan. Mereka bersama warga melakukan pengecatan pagar, membersihkan halaman meunasah, hingga mendirikan tenda utama yang akan digunakan untuk menyambut para tamu undangan dalam kenduri Maulid.
Bagi masyarakat setempat, membersihkan tempat ibadah bukan sekadar pekerjaan fisik. Ada nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi keagamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
“Gotong royong ini adalah bukti bahwa semangat kebersamaan masyarakat Gampong Moncrang masih sangat kental. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh aparat desa dan masyarakat yang telah bekerja keras. Persiapan untuk Maulid Nabi pada Senin sore sudah hampir rampung. Semua ini merupakan hasil kerja bersama demi memuliakan hari lahir Baginda Rasulullah SAW,” ujar Geusyik Marjani.
Di sisi lain, kaum ibu turut mengambil peran dengan menyiapkan hidangan dan minuman melalui dapur umum. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan, sekaligus memperlihatkan bahwa semangat gotong royong tidak hanya hadir di halaman meunasah, tetapi juga mengalir hingga ke dapur-dapur warga.
Suasana tersebut seolah menggambarkan bahwa Maulid bukan hanya tentang sebuah perayaan, melainkan tentang bagaimana masyarakat kembali merajut tali persaudaraan.
Ketika sapu membersihkan halaman, cat memperindah pagar dan tenda mulai berdiri, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya sebuah tempat untuk menyambut tamu, tetapi juga ruang kebersamaan yang mempertemukan hati-hati masyarakat dalam satu semangat mencintai Rasulullah SAW.
Dengan selesainya kegiatan gotong royong tersebut, Meunasah Gampong Moncrang kini tampak lebih bersih, rapi dan siap menjadi pusat pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dari gotong royong lahir kekompakan, dari kekompakan tumbuh persaudaraan. Dan dari persaudaraan itulah sebuah peringatan Maulid menjadi lebih bermakna—bukan sekadar meriah di mata, tetapi juga hangat di hati.(SGN/Rizki)














































Discussion about this post