Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Persoalan serius mencuat di areal Afdeling 3 Kebun Bandar Betsy milik PTPN IV Regional I. Diman ratusan tanaman ulang diketahui mati massal sebelum memasuki masa pertumbuhan optimal. Kondisi tersebut memunculkan sorotan tajam terhadap pengelolaan kebun milik negara itu.
Kematian tanaman dalam jumlah besar dinilai bukan persoalan biasa. Sebab, program tanaman ulang merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang perusahaan yang dibiayai dengan anggaran besar.
Fakta Lapangan
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat dan Sabtu (22-23/054/06) sejumlah tanaman ulang di Afdeling 3 terlihat mengering dan mati. Pada beberapa titik areal, kondisi tanaman tampak tidak terawat dan pertumbuhannya tidak seragam.
Selain itu, di lapangan juga terlihat pengaplikasian pupuk tankos yang diduga dilakukan secara tidak maksimal. Sebaran tankos tampak tidak merata dan berserakan di sekitar tanaman.

Jika dihitung secara visual, jumlah tankos yang diaplikasikan diperkirakan hanya sekitar 10 kilogram per pokok. Jumlah tersebut dinilai jauh berbeda dibandingkan tanaman milik warga di sekitar perkebunan yang terlihat lebih subur dengan penggunaan tankos diperkirakan mencapai 20 hingga 30 kilogram per pokok.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Manajer Kebun Bandar Betsy, Irfan. Pesan konfirmasi yang dikirim wartawan melalui WhatsApp diketahui telah dibaca. Namun hingga berita ini diterbitkan, tidak ada jawaban maupun klarifikasi resmi yang diberikan.
Sikap bungkam pihak manajemen justru memunculkan pertanyaan publik terkait kondisi sebenarnya di lapangan.
Dugaan yang Muncul
Kematian tanaman ulang secara massal memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam pengelolaan kebun.
Sejumlah dugaan yang berkembang antara lain menyangkut kualitas bibit, lemahnya pengawasan teknis, kesalahan pola penanaman, hingga buruknya perawatan tanaman setelah proses replanting dilakukan.
Selain itu, muncul pula dugaan bahwa pengamprahan tankos tidak diiringi perlakuan pengendalian hama sebagaimana standar operasional yang lazim diterapkan di perkebunan kelapa sawit.
Apabila dugaan tersebut benar, maka kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan kerugian perusahaan karena tanaman ulang merupakan aset investasi jangka panjang milik negara.
Opini dan Pernyataan Narasumber
Pemerhati perkebunan, Susilo Atmaja Purba, menilai kematian tanaman ulang dalam jumlah besar merupakan indikator lemahnya pengawasan manajemen kebun.
Menurut pria yang akrab disapa Purba Blankon itu, kegagalan tanaman dalam jumlah besar hampir mustahil terjadi tanpa adanya kesalahan dalam proses pengawasan maupun pengendalian teknis di lapangan.
Melihat kondisi dan posisi tanaman, kemungkinan tanaman terserang hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).”Kami menduga saat pengamprahan tankos tidak diiringi penaburan pestisida atau insektisida hayati di sekitar tumpukan sebagaimana SOP perkebunan, sehingga tanaman diserang hama dan akhirnya mati,” ujarnya.
Ia juga mendesak agar persoalan tersebut diaudit secara menyeluruh, baik oleh internal perusahaan maupun aparat penegak hukum jika ditemukan indikasi kerugian negara.
“Tanaman ulang itu investasi jangka panjang. Kalau sampai mati massal, berarti ada yang tidak berjalan normal. Ini wajib diaudit secara menyeluruh,” katanya.
Purba Blankon menegaskan persoalan tersebut tidak bisa dianggap sekadar masalah teknis perkebunan biasa karena menyangkut tata kelola aset perusahaan negara.
“Jangan sampai kebun negara dikelola seenaknya tanpa kontrol. Kalau ada pejabat yang tidak becus bekerja, harus dievaluasi. Ini uang negara, bukan milik pribadi,” tegasnya.
Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi dari pihak PTPN IV Regional I terkait penyebab kematian massal tanaman ulang tersebut serta langkah evaluasi yang akan diambil perusahaan.(SGN/TS)













































Discussion about this post