Inhil, Sinarglobalnusantara.com-
Belum genap setahun, bahkan baru hitungan bulan sejak rampung dikerjakan, proyek jalan nasional di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Kondisi ini memicu tanda tanya besar: apakah proyek bernilai miliaran rupiah ini benar-benar dikerjakan sesuai standar?
Proyek preservasi jalan nasional wilayah II Riau di ruas Sei Akar–Bagan Jaya–Tembilahan kini menuai sorotan tajam. Jalan yang baru selesai sekitar 2–3 bulan lalu itu dilaporkan sudah mengalami amblas di sejumlah titik.

Proyek yang dibiayai APBN Tahun Anggaran 2025 senilai Rp15.521.499.000 dan dikerjakan oleh PT Nagamas Mitra Usaha tersebut diduga kuat mengalami kegagalan mutu serta lemahnya pengawasan.
Pantauan di lapangan pada 12 dan 18 Maret 2026 menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Pada titik amblas, kendaraan besar seperti truk terpaksa mengambil jalur berlawanan demi bisa melintas. Situasi ini tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kerusakan terjadi di titik vital, yakni oprit (jalan pendekat) penghubung Desa Pancur dengan Jembatan Kuala Sei Akar. Titik ini merupakan akses utama yang menopang mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Warga sekitar saat ditemui wartawan menyebut proyek tersebut tergolong sangat baru. “Baru siap sekitar dua atau tiga bulan, bang,” ujar salah seorang pengguna jalan yang rutin melintas. Informasi ini juga diperkuat oleh papan proyek yang masih terpasang di sekitar lokasi.
Tak hanya satu titik, sekitar satu kilometer dari lokasi amblas juga ditemukan retakan pada badan jalan. Ironisnya, belum terlihat adanya upaya perbaikan ataupun penanganan dari pihak terkait.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya ketidaksesuaian spesifikasi teknis dalam pelaksanaan proyek, mulai dari kualitas material hingga proses pengerjaan. Minimnya pengawasan dari pihak berwenang juga menjadi sorotan, mengingat proyek bernilai miliaran rupiah ini seharusnya melalui kontrol ketat.
Publik pun mempertanyakan akuntabilitas pelaksanaan proyek tersebut. Bagaimana mungkin proyek dengan anggaran besar dan usia yang masih sangat muda sudah mengalami kerusakan?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Nagamas Mitra Usaha selaku kontraktor pelaksana belum memberikan klarifikasi. Begitu juga dengan pihak Dinas PUPR Kabupaten Indragiri Hilir yang belum memberikan tanggapan resmi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan cepat dan transparan, bukan hanya uang negara yang terancam sia-sia, tetapi juga keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi jalan tersebut. Publik kini menunggu: siapa yang bertanggung jawab?.(SGN/RHS)













































Discussion about this post