Simalungun, Sinarglobalnusantara.Com
RIP!! Sebuah ungkapan yang lazim digunakan untuk melepas kepergian sesuatu yang telah tiada. Namun kali ini, ungkapan tersebut seolah layak menjadi alarm atas kondisi sejumlah tanaman kelapa sawit produktif milik PTPN IV Regional ll tepatnya di Afdeling IV Kebun Laras. Bukan manusia yang sedang berduka, melainkan aset perkebunan yang semestinya menjadi mesin produksi dan sumber pendapatan perusahaan.
Padahal di tengah narasi transformasi, efisiensi, dan peningkatan produktivitas PTPN IV PalmCo, kondisi di lapangan justru menghadirkan pertanyaan yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Investigasi lapangan pada Selasa (1/9/2026) di Afdeling IV Kebun Laras, Desa Tumorang, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, menemukan sejumlah kondisi tanaman kelapa sawit yang patut mendapat perhatian serius manajemen.
Tanaman yang diperkirakan berusia sekitar 9 hingga 11 tahun terlihat dalam kondisi tidak seragam. Pada sejumlah titik ditemukan tanaman rusak, roboh, bahkan mati. Sementara di sisi lain, masih terlihat TBS dan brondolan tercecer di sekitar areal panen.
Yang juga mencolok, sebagian tanaman tampak dipenuhi pelepah kering, tumbuhan liar, gulma hingga liana yang merambat ke bagian tajuk. Kondisi tersebut secara kasatmata menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi pemeliharaan dan efektivitas pengawasan di tingkat afdeling.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menyentuh langsung jantung bisnis perkebunan: ketika satu batang sawit merupakan aset dan satu tandan merupakan potensi pendapatan, berapa nilai ekonomi yang berpotensi hilang ketika tanaman mati dan hasil panen tercecer?
Di sinilah persoalan tidak lagi sebatas tampilan kebun. Ini menyangkut bagaimana sebuah aset produktif dipelihara, bagaimana pekerjaan lapangan diawasi, dan sejauh mana setiap potensi produksi dijaga agar tidak berubah menjadi losses.
Perusahaan sebesar PTPN IV PalmCo tentu memiliki target, standar operasional dan sistem pengawasan. Namun, target di atas kertas pada akhirnya harus menemukan pembuktiannya di lapangan—di antara batang sawit, piringan tanaman, jalan panen, TPH hingga setiap tandan yang dipanen.
Sebab, transformasi tidak boleh berhenti pada laporan dan angka. Transformasi harus terlihat dari tanaman yang sehat, kebun yang terawat, produksi yang tertangani, serta aset yang semakin bernilai.
Karena itu, kondisi Afdeling IV Kebun Laras layak menjadi perhatian khusus Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santoso, untuk memastikan apakah temuan tersebut hanya bersifat lokal pada titik tertentu atau mencerminkan persoalan pemeliharaan yang membutuhkan evaluasi lebih luas.
Sawit “Gondrong”, Pelepah Kering dan Gulma Menutupi Tanaman
Salah satu kondisi yang paling mudah terlihat adalah tajuk dan batang sejumlah tanaman yang tampak kurang terawat.
Pelepah kering terlihat menumpuk pada batang. Serabut tanaman tua tampak menebal, sementara tumbuhan liar, semak dan liana ditemukan tumbuh di sekitar tanaman bahkan merambat menuju bagian tajuk.

Secara kasatmata, kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa pemeliharaan pada titik-titik tertentu perlu mendapat perhatian.
Kondisi seperti ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai pelaksanaan kegiatan pemeliharaan rutin, termasuk pengendalian gulma, pembersihan piringan dan pangkal tanaman, serta pengaturan pelepah.
Apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan sesuai standar? Jika telah dilaksanakan, mengapa kondisi serupa masih ditemukan di lapangan? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu berada pada manajemen kebun.
Tunas Liar dan Anakan Sawit Ikut Tumbuh
Selain gulma, ditemukan pula tunas dan anakan sawit liar di sekitar tanaman. Keberadaan vegetasi pengganggu tersebut berpotensi menjadi kompetitor tanaman utama dalam memperoleh air dan unsur hara sekaligus membuat areal menjadi lebih sulit dikelola.

Kondisi ini perlu dilihat sebagai bagian dari evaluasi pemeliharaan secara menyeluruh. Sebab, perkebunan bukan hanya tentang menanam dan memanen. Produktivitas membutuhkan kesinambungan pekerjaan: tanaman dipelihara, gulma dikendalikan, pelepah diatur, areal dibersihkan dan hasil panen dikawal hingga masuk dalam rantai produksi.
Ratusan Tanaman Rusak, Roboh hingga Mati
Temuan paling mengkhawatirkan adalah adanya sejumlah besar tanaman yang terlihat rusak, roboh dan mati. Pada beberapa titik, batang tanaman tampak terpecah, sementara pelepah dan sisa tanaman masih berserakan di areal.

Jumlah tanaman yang ditemukan dalam kondisi tersebut memang perlu diverifikasi melalui inventarisasi resmi pihak manajemen. Namun, dari amatan kasat mata wartawan dilapangan diperhitungkan mencapai ratusan, tentu sebagaimana terlihat dari pantauan lapangan, persoalan tersebut tentu tidak dapat dianggap remeh. Setiap tanaman produktif memiliki nilai ekonomi. Karena itu, tanaman yang mati atau roboh semestinya segera dicatat, diketahui penyebabnya, ditangani dan bila diperlukan dilakukan penyisipan untuk mempertahankan populasi tanaman.
Pertanyaan pentingnya: apa penyebab kerusakan tersebut? Apakah faktor alam, umur tanaman, kondisi tanah, penyakit, gangguan organisme, teknis budidaya atau faktor pemeliharaan? Evaluasi penyebab menjadi penting agar kerusakan yang sama tidak berulang.
TBS dan Brondolan Tercecer, Potensi Produksi Dipertanyakan
Di sejumlah titik yang diduga merupakan lokasi pengumpulan hasil atau TPH, terlihat TBS dan brondolan berada di permukaan tanah. Sebagian tandan tampak sudah dilokasi beberapa hari dengan kata lain terbuang, kondisi tersebut diduga menyebabkan kerugian produksi pada perusahaan

Memang diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah tandan tersebut benar-benar telah ditinggalkan karena kualitasnya rendah atau karena faktor lainnya. Namun, kondisi tersebut tetap menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas proses panen dan pengumpulan hasil.
Sebab, tandan yang tidak lagi memenuhi standar tertentu bukan berarti otomatis kehilangan nilai. Dengan penanganan yang tepat, bagian buah yang masih dapat dimanfaatkan semestinya tetap diperhitungkan dalam upaya meminimalkan losses.
Secara jurnalistik, pemandangan tersebut tetap layak dipertanyakan. Sebab, setiap brondolan yang tertinggal dan setiap TBS yang tidak tertangani secara optimal berpotensi menjadi bagian dari losses apabila kondisi tersebut terjadi berulang dan dalam volume signifikan. Di sinilah sistem pengawasan panen menjadi penting.
Penyisipan Dilakukan, Tetapi Pertumbuhannya Dipertanyakan
Indikasi penyisipan tanaman juga terlihat pada sejumlah titik. Namun, beberapa tanaman muda yang diduga merupakan hasil penyisipan terlihat belum tumbuh optimal. Kondisi tanaman tampak lemah dengan perkembangan pelepah yang belum maksimal.

Penyisipan sejatinya bukan sekadar kegiatan memasukkan bibit baru ke titik tanaman yang mati. Pekerjaan tersebut harus dilanjutkan dengan pemeliharaan hingga tanaman mampu tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
Jika tanaman telah ditanam tetapi kemudian tidak mendapatkan pemeliharaan yang memadai, maka biaya, tenaga dan sumber daya yang telah dikeluarkan berisiko tidak menghasilkan manfaat optimal. Menanam adalah awal. Membuat tanaman hidup, sehat dan produktif adalah tanggung jawab berikutnya.
Alarm bagi Manajemen PalmCo
Rangkaian kondisi tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi manajemen PTPN IV PalmCo.
Bukan untuk menghakimi sebelum ada penjelasan, melainkan untuk memastikan setiap persoalan lapangan mendapatkan jawaban dan tindak lanjut.
Tanaman mati perlu diketahui penyebabnya.
Tanaman roboh perlu segera ditangani.
TBS dan brondolan tercecer perlu dievaluasi.
Gulma dan pelepah yang mengganggu perlu dikendalikan.
Tanaman sisipan perlu dipastikan tumbuh.
Dan seluruh kegiatan tersebut membutuhkan pengawasan yang konsisten.
Sebab, kerugian perusahaan tidak selalu datang dalam bentuk angka besar yang langsung terlihat dalam laporan. Kadang ia tumbuh perlahan dari satu tanaman yang mati, satu tandan yang tercecer, satu areal yang tidak terawat, lalu terakumulasi menjadi kehilangan yang jauh lebih besar.
Karena itu, perhatian Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santoso menjadi penting untuk memastikan semangat transformasi benar-benar terasa sampai ke tingkat afdeling. Jangan sampai transformasi terlihat megah di atas kertas, tetapi aset produktif justru perlahan kehilangan nilainya di bawah tajuk sawit.
Manajemen Kebun Laras Telah Dikonfirmasi, Namun Belum Memberikan Keterangan
Sebagai bagian dari upaya menjaga keberimbangan pemberitaan, Redaksi Sinarglobalnusantara.com telah melakukan konfirmasi kepada Manajer Kebun Laras, Lidya Florensia Ginting, dan Asisten Kepala Kebun Laras, Agus Tino, pada Kamis (03/09/2026).
Konfirmasi tersebut disampaikan melalui pesan WhatsApp dengan menyertakan sejumlah temuan hasil investigasi lapangan sekaligus meminta pihak manajemen melakukan evaluasi terhadap kondisi yang ditemukan di Afdeling IV Kebun Laras.
Redaksi juga meminta pihak manajemen memberikan keterangan maupun bukti dokumentasi lapangan terkait tindak lanjut atas temuan tersebut, khususnya mengenai kondisi tanaman yang mati dan roboh, pemeliharaan tanaman, penanganan TBS dan brondolan yang tercecer, serta keberhasilan penyisipan tanaman.
Namun hingga berita ini disusun, Lidya Florensia Ginting selaku Manajer Kebun Laras dan Agus Tino selaku Asisten Kepala Kebun Laras belum memberikan keterangan maupun tanggapan atas konfirmasi tersebut, meskipun pesan WhatsApp telah terkirim dan menunjukkan tanda dua centang (terkirim dan diterima).
Pada akhirnya, kebun bukan sekadar hamparan hijau yang indah dipandang dari kejauhan. Di balik setiap batang sawit tersimpan investasi, keringat pekerja, biaya pemeliharaan dan harapan akan produksi.
Ketika tanaman produktif mulai mati, buah tercecer, gulma merambat dan pelepah kering menumpuk, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya apa yang terlihat oleh mata, tetapi apa yang luput dari pengawasan.
Sebab kerugian perusahaan tidak selalu datang seperti badai yang menghantam seketika. Kadang ia datang seperti rayap—diam-diam menggerogoti aset, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah kerangka dari sebuah potensi.
Satu batang yang mati mungkin terlihat kecil.
Satu tandan yang tercecer mungkin dianggap sepele.
Satu areal yang kurang terawat mungkin dianggap hanya persoalan biasa.
Namun ketika semuanya terjadi berulang dan dibiarkan, tetesan kecil itu dapat berubah menjadi sungai losses yang menggerus produktivitas perusahaan.(SGN/Tim R01)
















































Discussion about this post