Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Baiturrahman Banda Aceh menggelar Musyawarah Ranting (Musyran) ‘Aisyiyah Sukaramai dan STUI Banda Aceh ke-12. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula SD Muhammadiyah 2 Banda Aceh, Jalan Pattimura No. 37, Banda Aceh, dengan mengusung tema “Menguatkan Kepemimpinan untuk Mengokohkan dan Memperkuat Dakwah Perempuan Berkemajuan.”
Musyran bukan sekadar agenda rutin organisasi. Di balik forum musyawarah tersebut, tersimpan satu pesan penting: estafet perjuangan tidak boleh terhenti oleh pergantian zaman maupun generasi.
Forum ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi perjalanan organisasi, memperkuat konsolidasi kader, sekaligus menentukan arah kepemimpinan ke depan. Musyawarah juga menjadi bagian dari mekanisme regenerasi untuk memastikan roda organisasi terus bergerak dalam menjalankan dakwah dan amal usaha ‘Aisyiyah.
Ketua PCA Baiturrahman Banda Aceh, Linda Handayani, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga sekaligus haru karena Musyran dua ranting tersebut akhirnya dapat terlaksana.
“Alhamdulillah, hari ini kami dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Baiturrahman dapat melaksanakan Musyawarah Ranting untuk dua ranting sekaligus. Sesungguhnya kegiatan ini sudah seharusnya terlaksana pada periode sebelumnya. Karena itu, terlaksananya musyawarah hari ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Linda.
Menurut Linda, Musyran tidak boleh dimaknai sebatas pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut merupakan bagian penting dari proses kaderisasi dan kesinambungan perjuangan organisasi.
“Musyawarah ini bukan semata-mata persoalan pergantian pimpinan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan adanya regenerasi, sehingga estafet kepemimpinan terus berjalan dan ‘Aisyiyah semakin kuat dalam menjalankan risalah perjuangannya,” jelasnya.
Ia menegaskan, proses pemilihan pimpinan dalam ‘Aisyiyah merupakan bentuk ketaatan terhadap aturan dan mekanisme organisasi yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
“Pemilihan pimpinan melalui musyawarah merupakan bentuk ketaatan kita kepada organisasi. Semua dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku, dengan semangat musyawarah, kebersamaan, amanah, dan tanggung jawab,” kata Linda.
Regenerasi Menjadi Kunci Keberlanjutan
Linda menilai regenerasi kepemimpinan menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan dan tantangan zaman yang terus berkembang. Kepemimpinan baru diharapkan tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan program, tetapi juga menghadirkan gagasan-gagasan segar, memperkuat kaderisasi, serta memperluas gerakan dakwah perempuan.
Semangat tersebut sejalan dengan arah gerakan ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah yang terus mendorong kemajuan, pemberdayaan, dan kemanfaatan bagi umat serta masyarakat.
Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 yang berlangsung di Surakarta, Jawa Tengah, pada 18–20 November 2022, juga menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat arah gerakan ‘Aisyiyah menuju organisasi perempuan yang semakin berkemajuan.
Bagi Linda, kaderisasi harus menjadi investasi organisasi untuk masa depan. Sebab, organisasi yang kuat bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh seberapa serius organisasi menyiapkan pemimpin untuk hari esok.
“Harapan kami, kepemimpinan yang lahir dari Musyran ini mampu membawa ranting semakin aktif, solid, dan berkemajuan. Kader-kader baru harus diberikan ruang untuk tumbuh dan mengambil peran, sehingga perjuangan ‘Aisyiyah tidak berhenti pada satu generasi,” ungkapnya.
Selain menentukan kepemimpinan, Musyran ‘Aisyiyah Sukaramai dan STUI Banda Aceh juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarkader, memperkuat koordinasi antara ranting dan cabang, serta menyatukan langkah dalam menjalankan program-program organisasi.
PCA Baiturrahman berharap kepemimpinan baru yang terpilih mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan menjaga semangat kebersamaan. Berbagai bidang perjuangan, mulai dari dakwah, pendidikan, sosial, kaderisasi, hingga pemberdayaan perempuan, diharapkan semakin diperkuat.
Pada akhirnya, Musyran bukanlah garis akhir sebuah kepemimpinan. Ia justru menjadi pintu masuk bagi lahirnya energi baru organisasi.
“Semoga dari musyawarah ini lahir pemimpin-pemimpin yang amanah, ikhlas, visioner, dan mampu membawa ‘Aisyiyah semakin berkemajuan. Karena bagi kami, regenerasi bukan sekadar pergantian orang, tetapi bagaimana menyiapkan keberlanjutan perjuangan ‘Aisyiyah untuk masa depan,” pungkas Linda Handayani.
Dengan semangat musyawarah, regenerasi, dan dakwah perempuan berkemajuan, ‘Aisyiyah diharapkan terus menyalakan obor perjuangan—menjaga nilai yang telah diwariskan para pendahulu sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya.(SGN/Rizki)














































Discussion about this post