Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Hamparan perkebunan yang semestinya menjadi mesin pencetak keuntungan justru menghadirkan pemandangan yang memantik keprihatinan. Di areal Afdeling I PTPN IV Regional 2 Unit Kebun Marihat, ratusan Tanaman Muda (TM) kelapa sawit tampak diselimuti semak belukar. Tanaman yang diperkirakan ditanam pada 2022–2023 itu diduga belum memperoleh pemeliharaan optimal sehingga sebagian menunjukkan gejala serangan hama, sementara di sejumlah titik terlihat Tandan Buah Segar (TBS) yang diduga telah layak panen masih menggantung dan brondolan berserakan di sekitar pokok.
Temuan tersebut diperoleh tim Sinar Global Nusantara (SGN) saat melakukan investigasi lapangan pada Kamis (23/7/2026) di areal perkebunan yang berada di belakang Yonif 122/Tombak Sakti, Nagori Silau Malaha, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.
Sejak memasuki lokasi, hamparan tanaman muda di kawasan berbukit tampak tertutup gulma dan semak belukar yang menjalar hingga ke piringan tanaman. Pemandangan itu menimbulkan kesan bahwa sebagian areal kehilangan intensitas perawatan yang lazim dilakukan pada tanaman menghasilkan.

Di sejumlah titik, tim investigasi juga menemukan tanaman yang diduga mengalami serangan ulat api. Puluhan pelepah terlihat mengering, berubah warna, bahkan sebagian tampak mengalami penurunan kondisi. Dari hasil pengamatan lapangan, diperkirakan sekitar 20 hingga 30 pelepah pada ratusan pokok menunjukkan indikasi kerusakan.

Apabila dugaan serangan hama tersebut tidak segera dikendalikan, kondisi itu berpotensi berkembang menjadi ancaman serius terhadap produktivitas kebun. Dalam praktik budidaya kelapa sawit, keterlambatan pengendalian hama dapat berdampak pada penurunan produksi dan meningkatnya biaya pemulihan tanaman.
Selain itu, pemangkasan pelepah (pruning) di sejumlah blok juga diduga belum dilakukan secara optimal. Pelepah tua masih menggantung sehingga ancak tampak rimbun. Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas panen maupun pengutipan brondolan.

Ironisnya, di tengah kondisi tanaman yang membutuhkan perhatian, tim investigasi juga menemukan TBS yang diduga telah matang panen masih berada di pokok. Di bawahnya terlihat brondolan berserakan. Apabila tidak segera dipanen dan dikutip sesuai prosedur, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kehilangan hasil produksi.

Sorotan lain muncul pada aspek pengamanan kebun. Hasil investigasi menemukan akses dari lahan masyarakat menuju areal perkebunan yang relatif terbuka. Bahkan terdapat sejumlah jalan setapak yang diduga dapat dimanfaatkan sebagai jalur keluar masuk tanpa pengawasan maksimal.

Bila kondisi tersebut tidak segera dibenahi, potensi kehilangan hasil panen dikhawatirkan meningkat. Akumulasi kehilangan TBS maupun brondolan dari waktu ke waktu dapat berdampak terhadap pencapaian target produksi perusahaan.
Atas temuan tersebut, perhatian kini tertuju kepada Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santoso, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, pelaksanaan panen, hingga pengamanan aset perusahaan di Kebun Marihat.Langkah evaluasi dinilai penting apabila hasil investigasi ini nantinya terbukti melalui pemeriksaan internal perusahaan.
Selain itu, Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto, juga diharapkan melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap pengelolaan kebun agar produktivitas tanaman tetap terjaga serta potensi kerugian perusahaan dapat diminimalkan.
Hingga berita ini diterbitkan, Andi Sahatman Purba selaku Manajer PTPN IV Regional 2 Unit Kebun Marihat belum memberikan keterangan, Andi Purba memilih bungkam ketika dipertanyakan bagaimana langkah langkah yang telah dan akan dilakukan terkait temuan dilapangan meskipun WhatsApp yang dikirim telah tanda dibaca, sama halnya Asisten Kepala Kebun Marihat, Benny Agusnata memilih bungkam ketika dikonfirmasi.Sementara itu Asisten Afdeling l, Febrian hanya memberikan jawaban formalitas ketika dikonfirmasi langkah yang telah dan akan dilakukan,”Terimakasih infonya pak “tulis Febrian menjawab konfirmasi menunjukkan bahwa Asisten Afdeling ini tidak menguasai seluruh aktivitas di Afdelingnya sehingga butuh diberikan informasi.
Sikap bungkam Manajer PTPN IV Regional 2 Unit Kebun Marihat, Andi Sahatman Purba, serta Asisten Kepala Kebun, Benny Agusnata, justru semakin memantik pertanyaan publik. Padahal, konfirmasi dari media merupakan kesempatan untuk memberikan klarifikasi, membantah temuan apabila tidak benar, atau menjelaskan langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan. Namun hingga berita ini diterbitkan, keduanya memilih tidak memberikan penjelasan meski pesan konfirmasi melalui WhatsApp telah terbaca. Sikap tersebut berpotensi menimbulkan kesan minimnya keterbukaan terhadap persoalan yang menjadi sorotan publik.
Tidak kalah menjadi perhatian adalah respons Asisten Afdeling I, Febrian, yang hanya menjawab singkat, “Terima kasih infonya Pak,” tanpa disertai penjelasan mengenai kondisi di lapangan maupun langkah penanganan yang telah dan akan dilakukan. Jawaban yang bersifat formalitas itu belum menjawab substansi konfirmasi yang diajukan, sehingga memunculkan pertanyaan apakah temuan tersebut telah diketahui oleh jajaran pengelola afdeling atau justru belum menjadi perhatian serius.
Bagi sebuah perusahaan perkebunan milik negara yang mengelola aset bernilai besar, diam bukanlah jawaban yang diharapkan publik. Ketika muncul temuan mengenai dugaan lemahnya pemeliharaan tanaman, indikasi serangan hama, potensi kehilangan hasil panen, hingga aspek pengamanan kebun, yang dibutuhkan adalah penjelasan terbuka, evaluasi cepat, dan langkah perbaikan yang terukur. Sikap memilih bungkam atau hanya memberikan jawaban normatif justru berpotensi memperbesar ruang spekulasi dan mengurangi kepercayaan publik terhadap tata kelola kebun.
Kini perhatian tertuju kepada Direksi PTPN IV PalmCo yang dipimpin Jatmiko Krisna Santoso dan jajaran Regional 2 untuk membuktikan bahwa temuan ini akan ditindaklanjuti secara serius melalui evaluasi menyeluruh. Publik menunggu langkah konkret, bukan sekadar respons administratif, agar dugaan persoalan di Kebun Marihat dapat dijawab dengan fakta, transparansi, dan tindakan nyata. (SGN/R01)













































Discussion about this post