Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Di ujung Kabupaten Simalungun, tepatnya di Nagori Silau Dunia, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun yang merupakan kawasan yang berbatasan dengan Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, terselip sebuah potret yang seakan menjadi cermin retak dunia pendidikan dasar.
Ketika pendidikan digaungkan sebagai jembatan menuju masa depan, kondisi SDN 095237 Silau Dunia justru memperlihatkan kenyataan yang kontras. Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak untuk menimba ilmu, kini di sejumlah bagian tampak seperti menanggung luka yang dibiarkan mengering tanpa pernah benar-benar diobati.
Berdasarkan investigasi wartawan pada Senin (31/8/2026), ditemukan sejumlah fasilitas sekolah yang mengalami kerusakan cukup parah. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan sarana pendidikan yang digunakan para siswa untuk belajar setiap hari.
Langit-langit teras tampak berlubang besar. Lapisan penutup atap terkelupas dan sebagian material terlihat menggantung semrawut.
Atap yang semestinya menjadi pelindung justru seperti membuka celah bagi waktu dan cuaca untuk menggerogoti bangunan sedikit demi sedikit.
Dinding sekolah yang warnanya telah memudar turut mempertegas kesan bangunan yang membutuhkan perhatian. Cat yang mengelupas seolah menjadi jejak panjang perjalanan sebuah fasilitas pendidikan yang menanti uluran tangan.
Jendela Lapuk, Seolah Menatap Masa Depan yang Tak Kunjung Berubah
Kondisi jendela tak kalah memprihatinkan. Kusen kayu tampak lapuk dimakan usia. Daun jendela terlihat patah dan sebagian tidak lagi terpasang. Kaca pecah atau bahkan telah hilang, meninggalkan ruang kosong pada sisi bangunan.
Jendela-jendela itu seakan menjadi saksi bisu: setiap hari menyaksikan anak-anak datang membawa buku dan harapan, sementara bangunan tempat mereka belajar perlahan kehilangan kekuatannya.
Kerusakan tersebut terlihat di beberapa bagian bangunan. Bukan sekadar persoalan estetika, kondisi itu menyangkut kenyamanan dan keamanan lingkungan belajar.
Di tempat lain, sekolah mungkin berdiri kokoh dengan fasilitas yang lengkap. Namun di sini, harapan anak-anak tampaknya harus tumbuh di antara kusen lapuk, dinding kusam dan bangunan yang membutuhkan perhatian.
Kamar Mandi: Fasilitas Dasar yang Seolah Terlupakan
Kondisi kamar mandi sekolah juga menghadirkan pemandangan yang memprihatinkan.
Dinding bagian luar terlihat mengelupas, dihiasi noda lembap dan jamur hitam. Pintu rusak dengan permukaan yang terkelupas. Struktur bangunan tampak rapuh, sementara pada beberapa bagian pondasi terlihat terbuka.
Lantai tampak berdebu dan ditumbuhi rumput liar. Tumpukan sampah dan peralatan yang tidak lagi digunakan terlihat di sekitar area tersebut.
Rumput liar seolah tumbuh mengambil alih ruang yang seharusnya menjadi tempat menjaga kebersihan.
Masuk ke bagian dalam kamar mandi, kondisinya semakin memprihatinkan. Dinding dan lantai tampak kotor serta berlumut. Sejumlah fasilitas sanitasi terlihat tertutup debu dan bercampur dengan sisa barang yang terbuang.
Jika sekolah adalah tempat menanam benih masa depan, maka sanitasi adalah salah satu tanah tempat benih itu tumbuh. Lantas bagaimana benih pendidikan dapat tumbuh sehat jika lingkungan dasarnya sendiri membutuhkan pertolongan?
Bukan Sekadar Bangunan, Ini Soal Masa Depan Anak-Anak
Kerusakan bangunan sekolah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan cat mengelupas, jendela rusak atau kamar mandi yang tak terawat.
Di balik setiap ruang kelas terdapat anak-anak yang datang membawa cita-cita.
Ada yang bermimpi menjadi guru. Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, pengusaha, atau profesi lainnya. Mereka datang ke sekolah dengan buku di tangan dan masa depan di dalam kepala.
Namun, fasilitas pendidikan yang tidak memadai dapat menjadi gambaran ironis: ketika negara berbicara tentang mencetak generasi emas, sebagian anak justru masih harus belajar di bawah bayang-bayang bangunan yang menua.
Kepala Sekolah: Sudah Ajukan Revitalisasi
Saat diwawancarai wartawan di sekitar lokasi sekolah, Kepala SDN 095237 Silau Dunia, Rosida Purba, S.Pd., mengatakan bahwa pihak sekolah telah menyampaikan permohonan revitalisasi sejumlah ruangan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun.
Namun hingga saat ini, menurut Rosida, belum ada gambaran pasti mengenai pelaksanaan revitalisasi tersebut.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun telah menjanjikan revitalisasi akan dilakukan secepatnya.
Pernyataan tersebut tentu menjadi harapan bagi sekolah yang tengah menghadapi kondisi fasilitas yang memprihatinkan.
Harapan kini menggantung di antara dinding yang kusam dan atap yang berlubang—menunggu apakah janji akan berubah menjadi kenyataan.
Terlebih, Rosida Purba menyebut masa jabatannya sebagai kepala sekolah akan berakhir pada akhir Agustus 2026.
Kini, bola perhatian berada di tangan Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun. Masyarakat tentu berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada janji dan berkas permohonan yang tersimpan di meja birokrasi.
Sebab, sebuah bangunan sekolah boleh menua, tetapi harapan anak-anak tidak boleh ikut dibuat tua oleh lambannya perhatian.
Pendidikan adalah investasi panjang. Jika ruang belajar dibiarkan rusak, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar tembok dan atap, melainkan kenyamanan, keamanan, kesehatan, dan masa depan generasi yang sedang tumbuh.
Jangan sampai sekolah yang seharusnya menjadi pintu menuju masa depan justru berdiri sebagai monumen bisu dari janji revitalisasi yang tak kunjung tiba.
Hal ini juga agar menjadi atensi Bupati Simalungun H. Anton Achmad Saragih dan Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga.
Akankah wajah kusam SDN 095237 Silau Dunia segera mendapat sentuhan revitalisasi? Ataukah sekolah tersebut kembali menjadi monumen bisu yang menyimpan harapan anak-anak di antara dinding yang menua dan janji yang belum menemukan waktunya? Publik menunggu jawaban, bukan sekadar janji.(SGN/R01)
















































Discussion about this post