Sumut, Sinarglobalnusantara.com-
Ada tanaman yang ditanam untuk menjadi sumber harapan, tetapi ada pula yang justru mati sebelum sempat memberikan hasil. Di tengah ambisi besar pengelolaan perkebunan dan tuntutan operational excellence, kondisi Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) di Afdeling VI Kebun Bukit Lima, yang berada di Nagori Jawa Baru, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, justru memunculkan tanda tanya serius.
Kondisi tersebut pun terlihat ditengah terobosan Dirut Jatmiko Krisna Santoso dalam memimpin Subholding PTPN lV PalmCo dalam pengelolaan berbagai eks PTPN (seperti PTPN V, VI, dan XIII) ke dalam entitas PTPN IV PalmCo untuk menciptakan skala ekonomi yang kuat dari hulu hingga hilir, dan cukup jelas salah satu upaya yang dilakukan adalah Peningkatan Operational Excellence dan Digitalisasi, hal tersebut untuk memastikan pengawasan operasional yang ketat hingga level unit terkecil serta dekarbonisasi untuk mendukung transisi energi hijau.
Namun sepertinya terobosan tersebut masih sebatas angan angan diatas kertas, di jajaran perkebunan atau di unit unit perkebunan terobosan belum tentu berjalan, ini tentu bisa menjadi tamparan keras bagi Dirut Jatmiko Krisna Santoso, berdasarkan hasil investigasi dipangan Jumat, 14 Agustus 2026, menemukan sebagian areal TBM tampak dipenuhi gulma dan tanaman liar.
Sejumlah tanaman kelapa sawit muda terlihat tidak tumbuh optimal, bahkan terdapat tanaman yang tampak telah mati.Pemandangan itu tentu bukan sekadar persoalan rumput liar yang tumbuh di antara barisan sawit. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, pertanyaan yang jauh lebih besar muncul: bagaimana sistem pemeliharaan, pengawasan dan evaluasi berjalan di tingkat afdeling?

Sebab TBM bukan sekadar batang kecil yang ditanam di atas tanah. Di balik setiap bibit terdapat biaya, tenaga kerja, pupuk, perawatan, waktu dan investasi perusahaan yang diproyeksikan menghasilkan produktivitas pada masa mendatang.
Menanam tanpa merawat ibarat menyalakan pelita lalu membiarkannya kehabisan minyak. Harapan pernah dinyalakan, tetapi padam sebelum menerangi jalan.
Ketika Gulma Justru Tumbuh Lebih Subur, Kemana Anggaran Perawatan?
Dari pantauan lapangan, sejumlah bagian areal terlihat didominasi gulma dan tumbuhan liar. Tanaman utama yang seharusnya menjadi pusat perhatian justru tampak harus berebut ruang hidup dengan tumbuhan pengganggu.

Kondisi tersebut tentu perlu dijawab secara teknis oleh perusahaan.
Apakah pengendalian gulma telah dilakukan sesuai standar?
Apakah pemeliharaan TBM berjalan sebagaimana mestinya?
Apakah tanaman yang mati telah dilakukan penyulaman?
Atau terdapat faktor lain seperti kualitas bibit, kondisi tanah, serangan hama dan penyakit, cuaca maupun faktor teknis lainnya?
Kemana anggaran biaya perawatan yang digelontorkan PTPN IV?
Pertanyaan tersebut bukanlah vonis. Namun, ketika tanaman muda terlihat mati di tengah areal yang dipenuhi gulma, diam bukanlah jawaban yang cukup.
Ratusan Tanaman Disorot, Alarm Manajemen Berbunyi
Sorotan terhadap kondisi TBM Afdeling VI semakin serius karena bukan hanya satu atau dua tanaman yang terlihat bermasalah. Sejumlah tanaman tampak mati dan kondisi areal menunjukkan perlunya pemeriksaan lebih menyeluruh.
Terkait tanaman yang mati mencapai ratusan, persoalannya tentu tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian biasa yang selesai dengan menanam ulang beberapa batang, namun:
Harus ada evaluasi.
Harus ada penghitungan.
Harus ada identifikasi penyebab.
Dan yang paling penting, harus ada langkah perbaikan.
Sebab dalam bisnis perkebunan, tanaman yang mati bukan hanya kehilangan batang dan daun, tetapi juga kehilangan waktu, biaya dan potensi produksi. Satu tanaman mungkin terlihat kecil nilainya.
Namun ketika jumlahnya mencapai ratusan, angka kecil tersebut dapat berubah menjadi persoalan besar.
Operational Excellence Jangan Berhenti di Atas Kertas
Sorotan terhadap kondisi Afdeling VI menjadi semakin relevan di tengah berbagai agenda transformasi dan peningkatan kinerja PTPN IV PalmCo.
PTPN IV PalmCo membawa agenda penguatan operasional, termasuk peningkatan operational excellence, digitalisasi dan pengawasan operasional hingga level unit terkecil.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar:
Apakah sistem pengawasan tersebut benar-benar sampai ke areal TBM?
Sebab digitalisasi dan laporan kinerja pada akhirnya harus tercermin di lapangan.
Jika laporan menunjukkan kegiatan pemeliharaan berjalan, tetapi di lapangan tanaman justru terlihat merana dan gulma mendominasi, maka terdapat ruang yang harus diperiksa.
Jangan sampai laporan terlihat hijau di atas kertas, sementara tanaman di lapangan justru menguning dan mati. GM Distrik, Manajer dan Askep, Hingga Asisten Afdeling VI Didesak Bertanggung Jawab
Kondisi tanaman yang mati diduga kurang perawatan tersebut pun memantik asumsi ditengah publik, matinya TBM membuktikan adanya kelalaian GM Distrik, Manajer, Askep maupun jajaran pengelola kebun, dimana secara manajerial, mereka dituntut tanggung jawab untuk memastikan operasional, pemeliharaan, pengawasan dan evaluasi tanaman agar berjalan sesuai ketentuan perusahaan, itulah menjadi alasan manajemen memberikan fasilitas yang terbaik bagi para petinggi perkebunan tersebut, namun ketika tanggung jawab tidak terlaksana siapakah yang harus menanggung beban?
Sebuah kapal tidak cukup hanya memiliki mesin besar. Kapal membutuhkan nakhoda, peta dan pengawasan agar tidak keluar jalur. Demikian pula perkebunan.
Bibit dan lahan tidak akan menghasilkan produktivitas tanpa pemeliharaan yang benar.
Karena itu, apabila persoalan TBM tersebut disebabkan faktor alam, perusahaan tentu dapat menjelaskannya.
Jika disebabkan persoalan teknis, perusahaan dapat memaparkan hasil pemeriksaan dan langkah perbaikannya.
Jika berkaitan dengan kualitas bibit, kondisi tanah, hama atau penyakit, hal tersebut juga dapat dibuktikan secara teknis.
Namun jika ditemukan kelemahan dalam pemeliharaan atau pengawasan, maka evaluasi internal tentu menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Konfirmasi Redaksi Belum Mendapat Jawaban
Sebagai bentuk keberimbangan pemberitaan, awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Asisten Kebun Bukit Lima Afdeling VI terkait kondisi TBM yang menjadi sorotan. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan.
Konfirmasi kemudian dilanjutkan kepada Manajer Kebun Bukit Lima, Mugianto, melalui pesan WhatsApp pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Namun hingga berita ini disiarkan, belum diperoleh tanggapan maupun penjelasan terkait kondisi tanaman tersebut.
Redaksi juga berupaya meminta penjelasan kepada General Manager Distrik I Bahjambi, Masaeli Lahagu, selaku pimpinan yang memiliki peran dalam koordinasi dan pengawasan operasional perkebunan.
Namun pesan WhatsApp yang dikirim redaksi hingga berita ini diterbitkan masih menunjukkan centang satu.
Tidak adanya jawaban tentu tidak dapat dimaknai sebagai pengakuan atas dugaan kelalaian.
Namun ruang klarifikasi tetap penting. Sebab yang dipertanyakan bukan persoalan kecil, melainkan kondisi tanaman yang merupakan bagian dari investasi perusahaan.
PTPN IV Merugi Jangan Tunggu Tanaman Menjadi Kenangan
Manajemen PTPN IV PalmCo dan PTPN IV Regional II perlu memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut karena dipastikan merugikan perusahaan.
Pemeriksaan lapangan secara menyeluruh penting dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah tanaman yang mati, apa penyebabnya, bagaimana riwayat pemeliharaannya, apakah penyulaman telah dilakukan, serta apakah terdapat persoalan teknis maupun manajerial.
Jangan sampai tanaman menunggu mati baru kemudian dicari penyebabnya.
Dalam perkebunan, keterlambatan bertindak ibarat membiarkan bara kecil tertutup daun kering. Ketika api membesar, biaya untuk memadamkannya tentu jauh lebih mahal.
Begitu pula dengan TBM. Semakin lama tanaman muda dibiarkan dalam kondisi tidak optimal, semakin besar pula risiko kerugian yang harus ditanggung.
Aset Negara Bukan untuk Tumbuh Menurut Nasib, PTPN IV merupakan bagian dari ekosistem perusahaan perkebunan negara. Karena itu, setiap hektare lahan, setiap bibit, setiap kegiatan pemeliharaan dan setiap rupiah investasi memiliki nilai pertanggungjawaban yang lebih luas.
Setiap bibit adalah investasi.
Setiap tanaman adalah aset.
Setiap hektare adalah amanah.
Tanaman sawit muda ibarat janji yang baru ditanam. Ia memang belum menghasilkan buah, tetapi sejak awal telah menyerap biaya dan tenaga.
Jika dirawat, ia akan tumbuh menjadi sumber produktivitas.
Namun jika dibiarkan, janji itu dapat berubah menjadi beban.
Catatan Redaksi
Persoalan Afdeling VI Kebun Bukit Lima tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan berapa banyak tanaman yang mati.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Mengapa tanaman tersebut mati?
Apakah karena faktor alam?
Apakah kualitas bibit?
Apakah hama dan penyakit?
Apakah kondisi tanah?
Apakah pemeliharaan?
Apakah pengendalian gulma?
Atau ada persoalan pengawasan yang perlu dievaluasi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut hanya dapat diperoleh melalui pemeriksaan dan penjelasan resmi perusahaan.
Namun satu hal tidak dapat diabaikan: ketika gulma terlihat lebih subur daripada tanaman yang ditanam untuk masa depan, alarm pengawasan patut dibunyikan.
Kebun bukan sekadar hamparan tanah. Kebun adalah investasi yang membutuhkan perawatan,dan tanaman tidak bisa berbicara.Tetapi ketika tanaman yang ditanam untuk menghasilkan masa depan justru mati dalam diam, diamnya kebun bisa menjadi suara paling keras yang meminta pertanggungjawaban.
Sinarglobalnusantara.com tetap membuka ruang seluas-luasnya kepada PTPN IV PalmCo, PTPN IV Regional II, GM Distrik I, Manajer Kebun Bukit Lima, Askep serta pihak terkait untuk memberikan klarifikasi, data, hasil pemeriksaan teknis maupun penjelasan mengenai kondisi TBM Afdeling VI.
Karena kritik bukanlah vonis, dan klarifikasi bukanlah pembelaan semata. Keduanya adalah bagian dari upaya memastikan aset perusahaan dikelola dengan benar dan kepentingan publik tetap terlindungi.(SGN/TS/R01)














































Discussion about this post