Sumsel, Sinarglobalnusantara.com-
Bagi sebagian orang, skripsi hanyalah tugas akhir sebelum wisuda. Namun bagi banyak mahasiswa, khususnya mahasiswi semester akhir, skripsi adalah fase paling berat yang menguji mental, kesabaran, bahkan ketahanan diri menghadapi tekanan hidup.
Di balik tumpukan buku, revisi demi revisi, hingga bimbingan yang menguras emosi, tersimpan kisah perjuangan panjang yang tidak semua orang mampu memahami. Skripsi bukan hanya tentang menyusun bab demi bab, tetapi tentang bagaimana mahasiswa bertahan saat tekanan datang secara bersamaan.
Mulai dari tuntutan akademik, harapan orang tua, pertanyaan keluarga soal kelulusan, hingga rasa cemas memikirkan masa depan, semuanya menjadi beban yang harus dipikul sendiri oleh mahasiswa tingkat akhir.
“Kalau ditanya capek, tentu sangat capek. Tapi kami harus tetap bertahan,” ungkap salah satu mahasiswi semester akhir di Sumatera Selatan (Sumsel).
Pada awalnya, banyak mahasiswa membayangkan proses skripsi akan berjalan lancar. Judul cepat disetujui, dosen mudah ditemui, dan wisuda bisa diraih tepat waktu. Namun kenyataannya, perjalanan itu sering jauh dari harapan.
Penentuan judul saja bisa memakan waktu panjang. Tidak sedikit mahasiswa yang harus mengganti topik penelitian karena ditolak atau dianggap belum layak. Fase inilah yang sering membuat mahasiswa mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.
Belum lagi proses bimbingan dengan dosen yang penuh tantangan. Jadwal yang padat, revisi berulang, hingga perbedaan pendapat membuat banyak mahasiswa mengalami tekanan mental.
Rasa takut ketika hendak bimbingan menjadi hal yang biasa. Takut hasil kerja dianggap belum maksimal, takut kembali direvisi, hingga takut tidak bisa menyelesaikan tepat waktu.
Di tengah perjuangan itu, hadir kisah Annisa Intan Juwita, mahasiswi semester akhir dari Universitas Sriwijaya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Sejarah, yang tengah berjuang menyelesaikan skripsinya.
Annisa mengangkat penelitian berjudul “Tradisi Menangkap Ikan (Ngesar) di Lebak Lebung Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 1950–1998.”
Penelitian tersebut mengharuskannya turun langsung mencari narasumber terpercaya demi menggali sejarah tradisi masyarakat Pedamaran dalam menangkap ikan menggunakan metode “Ngesar”, termasuk alat-alat tradisional yang digunakan masyarakat tempo dulu.
Dalam proses penelitiannya, Annisa mewawancarai tokoh masyarakat Pedamaran, Ansori, yang dikenal sebagai juru lelang lebak lebung setiap tahunnya.
“Syukur Alhamdulillah saya sudah bertemu Pak Ansori untuk wawancara mengenai cara menangkap ikan dan alat yang digunakan dalam tradisi Ngesar ini,” ujar Annisa.
Tak berhenti di situ, Annisa juga berencana menemui Listiadi Martin sebagai narasumber tambahan. Menurutnya, pengalaman Listiadi Martin yang pernah menjabat sebagai Camat Pedamaran serta Kepala BPBD OKI akan sangat membantu memperkaya data penelitian yang sedang ia susun.
“Beliau banyak memahami kondisi Pedamaran, baik saat banjir maupun musim kemarau. Itu sangat penting untuk bahan skripsi saya,” tambahnya.
Annisa mengaku perjuangan menyusun skripsi tidak mudah. Selain harus mencari data lapangan, ia juga harus membagi waktu, menjaga mental, dan tetap optimistis menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Kisah Annisa menjadi gambaran nyata bahwa di balik toga dan senyum wisuda, ada perjuangan panjang yang penuh air mata, tekanan, dan mental baja.
Sebab pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi tentang bagaimana seseorang belajar bertahan, dewasa, dan tidak menyerah pada keadaan.(SGN/M Tahan)













































Discussion about this post