Keerom,.Sinarglobalnusantara.com-
Jalan Trans Papua lagi-lagi tak berdaya menghadapi longsor tepatnyan di Kampung Kalimo, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, akses vital penghubung Jayapura–Wamena kembali terputus. Peristiwa yang berulang ini bukan sekadar bencana alam—ia kini menjelma menjadi simbol kegagalan pengelolaan infrastruktur negara.
Amarah publik pun memuncak. Ketua DPD KNPI Kabupaten Keerom, Yan Christian May, melontarkan desakan keras dan tanpa kompromi: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) diminta segera mencopot Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) wilayah Jayapura–Wamena serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut.
“Berapa kali lagi harus longsor baru ada tindakan? Ini bukan musibah semata, ini kegagalan yang dibiarkan berulang,” tegas Yan Senin (19/04/2026).
Menurutnya, runtuhnya badan jalan di titik yang sama menunjukkan satu hal: lemahnya perencanaan, buruknya pengawasan, dan nihilnya mitigasi risiko. Proyek strategis nasional yang seharusnya menjadi tulang punggung konektivitas Papua justru berubah menjadi titik rawan yang terus mengancam keselamatan warga.
Dampaknya nyata dan terasa langsung. Jalur distribusi logistik terhenti, harga bahan pokok melonjak, layanan kesehatan terganggu, dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah pegunungan tersendat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat bukan hanya dirugikan—mereka dipaksa menanggung konsekuensi dari kelalaian yang tak kunjung diperbaiki.
KNPI Keerom bahkan menilai ada indikasi masalah lebih dalam: kualitas pekerjaan yang patut dipertanyakan serta penggunaan anggaran yang tidak transparan. Mereka mendesak audit menyeluruh terhadap konstruksi jalan, sistem drainase, hingga kajian geoteknik di sepanjang jalur rawan longsor.
“Ini proyek besar dengan anggaran besar. Tapi hasilnya? Jalan putus berulang. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Bagi KNPI, langkah tegas berupa pencopotan pejabat bukan sekadar tuntutan, melainkan keharusan untuk memulihkan kepercayaan publik. Tanpa itu, kegagalan serupa diyakini akan terus terulang.
Kini, sorotan tertuju ke pemerintah pusat. Apakah akan bertindak tegas, atau membiarkan Jalan Trans Papua terus menjadi cerita lama yang berulang—longsor, terputus, lalu dilupakan?.(SGN/YBM)













































Discussion about this post