Labura, Sinarglobalnusantara.com-
Konflik agraria di Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, berubah menjadi potret kekerasan terbuka. Warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Padang Halaban dan Sekitarnya (KTPHS) mengaku diserang, dipukul, hingga dipaksa mundur oleh ratusan orang yang diduga berkaitan dengan PT SMART (Sinar Mas Agro Resources and Technology), Kamis (9/4/2026).
Bukan sekadar bentrokan biasa. Warga menyebut, satu-satunya masjid yang selama ini menjadi tempat bertahan hidup sekaligus simbol perlawanan mereka, ikut dirubuhkan. Di tengah ketegangan yang memuncak, peristiwa ini dinilai sebagai eskalasi serius dalam konflik lahan yang telah lama membara.
“Kami tidak sedang menyerang. Kami hanya bertahan di tanah kami sendiri,” kata Sagala, perwakilan kelompok tani, Jumat (10/4/2026).
“Tapi yang datang justru ratusan orang. Kami dipukul, diintimidasi. Ini bukan lagi sengketa, ini sudah kekerasan,” tegasnya.
Warga menilai tindakan tersebut sebagai bentuk nyata intimidasi dan pelanggaran hak asasi manusia di sektor agraria. Mereka menuding pendekatan kekerasan digunakan untuk mematahkan perlawanan petani yang mempertahankan ruang hidupnya.
Di sisi lain, pihak perusahaan membantah tuduhan tersebut. Humas PT SMART (Sinar Mas Agro Resources and Technology), Nathan, menyatakan bahwa tim pengamanan tidak dibekali senjata tajam.
“Seluruh tim pengamanan dilarang membawa senjata tajam. Mereka hanya diperbolehkan membawa tongkat T untuk membela diri,” ujarnya melalui pesan singkat.
Ia juga mengklaim bahwa dalam insiden itu, justru ada anggota pengamanan yang menjadi korban pengeroyokan dan ancaman menggunakan senjata tajam. Pihak perusahaan, kata dia, telah memilih jalur hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian.
Namun bagi warga, pernyataan itu tidak menjawab inti persoalan: mengapa ratusan orang bisa dikerahkan ke wilayah konflik, dan mengapa kekerasan terhadap petani terus berulang.
Konflik Padang Halaban kini menjadi cermin buram persoalan agraria di Indonesia—ketika klaim atas tanah berhadapan langsung dengan kekuatan modal, dan warga kecil berada di garis depan tanpa perlindungan yang memadai.
Di tengah reruntuhan masjid dan luka para petani, satu pertanyaan menggantung: sampai kapan konflik seperti ini dibiarkan menjadi cara penyelesaian?.
(SGN/Bana)













































Discussion about this post