Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Dalam rangka mendukung keberhasilan Program Ketahanan Pangan yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Polsek Bosar Maligas bersama manajemen PTPN IV Kebun Unit Mayang menginisiasi Rapat Koordinasi (Rakor) Penyerapan Hasil Panen Jagung antara perwakilan petani dan mitra Bulog.
Kegiatan ini berlangsung di Kantor Besar PTPN IV Kebun Unit Mayang, Nagori Mayang, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Selasa (03/02/2026).
Rakor tersebut menjadi forum strategis untuk memastikan proses penyerapan hasil panen petani berjalan transparan, adil, dan berkelanjutan. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan petani, para pangulu/kepala desa dari masing-masing kelompok tani, manajemen UD Bornok selaku mitra Bulog, serta pihak PTPN IV.
Salah satu hasil penting rakor ini adalah pernyataan kesiapan UD Bornok menjadi mitra handal dan mitra strategis petani dalam penyerapan hasil panen jagung.
Dalam sambutannya, Kapolsek Bosar Maligas Iptu Sonni Gaperkasa Silalahi, SH menegaskan bahwa transparansi merupakan kunci utama agar petani memperoleh kepastian harga, kejelasan mekanisme penyerapan, serta jaminan keberlanjutan pasar.
“Ini adalah program pemerintah pusat. Saya pribadi tidak berharap keuntungan apa pun dari kegiatan ini. Namun jika program ini berhasil, kami Polri bangga dapat berperan dalam mensukseskan program Presiden RI,” ujarnya.
Ia juga berharap seluruh pangulu, gapoktan, dan poktan dapat langsung berkoordinasi dengan manajemen UD Bornok. “Untuk komunikasi selanjutnya tidak perlu lagi melalui Polsek atau PTPN IV, agar tidak ada kesan hal-hal yang ditutup-tutupi,” tambahnya.
Sementara itu, manajemen UD Bornok menegaskan komitmennya menjalankan kerja sama secara profesional dan terbuka.
“Kami siap menjadi mitra petani dan mendukung penuh program ketahanan pangan dengan mekanisme penyerapan hasil panen yang transparan dan saling menguntungkan,” ujar perwakilan UD Bornok.
Para pangulu dan perwakilan petani menyambut baik komitmen tersebut. Mereka berharap kerja sama ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani, mengurangi ketidakpastian pasar, serta memperkuat ketahanan pangan di wilayah Simalungun.
Namun dalam forum tersebut, petani juga menyampaikan sejumlah permasalahan, antara lain:
1.Harapan agar harga jagung sesuai dengan harga pasaran.
2.Kebutuhan alat pemipil jagung yang dapat langsung masuk ke lokasi lahan karena jarak lahan ke jalan umum cukup jauh.
3.Sebagian petani telah memiliki anak angkat permodalan (tengkulak), sehingga dikhawatirkan muncul konflik jika hasil panen dijual ke pihak lain.
Menanggapi hal tersebut, manajemen UD Bornok menjelaskan bahwa harga akan mengikuti standar Bulog.
“Untuk harga terkini, jagung pipil kering kami beli seharga Rp5.800 per kilogram, sedangkan jagung basah dengan rendemen air 30 persen seharga Rp4.250 per kilogram,” jelasnya.
Selain itu, UD Bornok menyatakan kesiapan menyediakan fasilitas pendukung, mulai dari pendataan hasil panen, penilaian kualitas, hingga pembayaran yang tepat waktu.
“Petani adalah pilar utama ketahanan pangan. Kami siap menjadi mitra yang dapat dipercaya untuk membantu memasarkan hasil kerja keras mereka,” ungkap perwakilan UD Bornok.
Dukungan juga disampaikan oleh PTPN IV Kebun Unit Mayang. Manajer PTPN IV, Parlagutan Marpaung, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam program ketahanan pangan tersebut.
“Secara pelaksanaan kami hanya menyiapkan lahan sesuai kesepakatan dengan pimpinan pusat. Kami tidak terlibat dalam penyerapan hasil panen. Kami juga mengimbau petani agar tidak melakukan penanaman tahap selanjutnya sebelum ada surat keputusan resmi dari pimpinan kami,” ujarnya.
Rakor berlangsung dengan aman dan lancar. Turut hadir para pangulu dan perwakilan kelompok tani dari Nagori Bahal Batu, Sidomulyo, Raja Maligas, Mayang, Marihat Mayang, Purbutaran, Boluk, serta Marihat Butar.(SGN/R01)













































Discussion about this post