Simalungun,.Sinarglobalnusantara.com-
Di tengah gencarnya gaung pembangunan dan slogan ketahanan pangan, jeritan para petani di Nagori Seimerbo Huta Tanjung Marihat, Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun, justru terdengar kian lirih. Hampir dua tahun saluran irigasi yang menjadi urat nadi kehidupan pertanian di wilayah itu rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Saluran yang dahulu mengalirkan kehidupan kini berubah bak urat yang terputus dari denyut nadi, meninggalkan hamparan sawah yang perlahan kehilangan harapan. Air yang seharusnya menjadi darah bagi tanah-tanah pertanian, kini hanya menyisakan dasar saluran yang retak dan sunyi.

Di setiap pematang sawah, harapan para petani seolah ikut mengering bersama aliran air yang tak lagi datang. Mentari yang seharusnya menjadi sahabat tanaman kini berubah menjadi pedang panas yang membelah tanah persawahan hingga retak-retak.

Akibat rusaknya jaringan irigasi tersebut, banyak petani memilih tidak lagi menanam padi karena biaya produksi terus membengkak. Selama dua tahun terakhir, sebagian petani terpaksa mengandalkan mesin pompanisasi untuk mengairi sawah mereka dengan biaya sekitar Rp300 ribu setiap kali pemompaan.

Ironisnya, suara mesin pompa kini lebih sering terdengar dibanding gemericik air irigasi. Setiap liter solar yang dibakar seolah menjadi air mata yang dibayar dengan uang, sementara hasil panen belum tentu mampu menutup biaya yang dikeluarkan.
“Kami butuh air, bukan janji. Kami ingin tanam padi lagi, Bang, tapi kami tidak mau merugi lagi. Sudah dua tahun kami bertahan menggunakan mesin pompa. Sekali pompa hampir Rp300 ribu, hasil panennya tidak sebanding dengan biaya yang kami keluarkan. Entah kepada siapa lagi kami harus mengadu,” ungkap seorang petani dengan nada penuh kekecewaan.
Menurut keterangan warga, berbagai proposal permohonan perbaikan telah berkali-kali diajukan kepada instansi terkait. Namun hingga kini belum terlihat adanya realisasi pembangunan maupun perbaikan saluran irigasi yang mereka harapkan.
Bagi warga, proposal-proposal itu ibarat perahu yang tak pernah berlayar, hanya berpindah dari satu meja ke meja lainnya tanpa pernah berlabuh menjadi pekerjaan nyata di lapangan. Tumpukan berkas terus meninggi, sementara harapan petani justru semakin menipis.
Di sisi lain, musim terus berganti tanpa membawa perubahan. Waktu berlari, tetapi pembangunan seolah berjalan di tempat. Setiap musim tanam yang terlewat menjadi kerugian yang tidak mungkin diputar kembali.
Para petani menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan sumber utama penghidupan keluarga mereka. Tanpa pasokan air yang memadai, ancaman gagal tanam dan penurunan pendapatan semakin nyata.
Bagi mereka, sawah bukan sekadar sebidang tanah, melainkan dapur kehidupan tempat anak-anak disekolahkan, kebutuhan keluarga dipenuhi, dan masa depan digantungkan. Ketika sawah kehilangan air, bukan hanya tanaman yang layu, tetapi juga harapan keluarga ikut meredup.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Simalungun, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II apabila menjadi kewenangannya, DPRD Kabupaten Simalungun, serta instansi terkait lainnya agar segera turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya dan mengambil langkah sesuai kewenangan masing-masing.
Warga berharap para pemangku kebijakan tidak hanya melihat laporan dari balik meja, tetapi juga menginjakkan kaki di pematang sawah agar dapat merasakan langsung apa yang selama ini dirasakan para petani. Sebab, realitas di lapangan sering kali lebih lantang berbicara daripada setumpuk laporan di atas kertas.
“Kami tidak meminta yang mewah. Kami hanya ingin irigasi diperbaiki agar sawah kami kembali dialiri air dan kami bisa kembali menanam padi untuk menghidupi keluarga,” tutur warga.
Bagi petani Ujung Padang, air bukan sekadar mengalir di saluran irigasi. Air adalah napas sawah, denyut kehidupan petani, dan penopang ketahanan pangan. Tanpa air, benih hanya akan menjadi harapan yang terkubur di tanah kering.
Kini masyarakat hanya berharap, jangan sampai jeritan petani kembali hilang ditelan sunyi birokrasi. Sebab setiap hari yang berlalu tanpa perbaikan, bukan hanya padi yang gagal tumbuh, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap hadirnya pemerintah sebagai pelayan rakyat perlahan ikut terkikis.(SGN/TS)














































Discussion about this post