Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Pesta demokrasi di lingkungan SMA Negeri 7 Banda Aceh melahirkan pemimpin baru. Adelia Putri terpilih sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 7 Banda Aceh masa bhakti 2026/2027 setelah meraih suara terbanyak dalam pemilihan yang berlangsung demokratis, Sabtu (5/9/2026).
Perolehan suara Adelia hanya terpaut tipis dari kandidat peraih suara terbanyak kedua. Namun, angka-angka dalam lembar penghitungan suara itu bukan sekadar deretan bilangan. Di baliknya tersimpan kepercayaan ratusan siswa yang menitipkan harapan kepada sosok yang akan menjadi wajah kepemimpinan pelajar di sekolah tersebut.
Pemilihan berlangsung dengan antusiasme tinggi. Sebelum pencoblosan, para kandidat terlebih dahulu diuji melalui debat kandidat pada Jumat (4/9/2026). Forum tersebut menjadi ruang bagi para calon untuk menyampaikan gagasan, visi, dan program sekaligus menunjukkan kemampuan mereka dalam berargumentasi di hadapan para pemilih.
Ketua Panitia Pemilihan Ketua OSIS, Aqila Raisa, melaporkan terdapat empat kandidat yang bersaing dalam kontestasi tersebut, yakni Raisa Aqila, Raudhatul Jannah, Adelia Putri, dan Muhammad Raghasyah.
Hasil penghitungan suara menempatkan Adelia Putri di posisi teratas dengan 266 suara, disusul Raudhatul Jannah 256 suara, Raisa Aqila 205 suara, dan Muhammad Raghasyah 132 suara.
Dengan hasil tersebut, Adelia resmi menerima mandat untuk memimpin OSIS SMAN 7 Banda Aceh periode 2026/2027.
Bukan Sekadar Ketua OSIS
Adelia Putri, yang akrab disapa Adel, merupakan remaja kelahiran Pidie, 21 Juni 2010, putri dari Syafrizal dan Marlina.
Di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, Adel dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan kepemudaan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mengemban amanah sebagai ketua OSIS.
Adel tercatat sebagai Sekretaris Sanggar Seni Geunta Nanggroe dan Wakil Ketua II Forum Anak Kota Banda Aceh. Ia juga pernah dipercaya sebagai Duta Siswa Pendidikan Provinsi Aceh 2025.
Tak hanya organisasi, Adel juga memiliki ketertarikan dan bakat di bidang desain. Perpaduan pengalaman organisasi dan kreativitas tersebut diharapkan mampu melahirkan warna baru dalam perjalanan OSIS SMAN 7 Banda Aceh.
Kini, tantangannya bukan lagi memenangkan pemilihan, melainkan membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan siswa mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Sebab, dalam kepemimpinan, kemenangan hanyalah pintu masuk. Setelah pintu itu terbuka, yang dibutuhkan adalah keteguhan untuk berjalan, keberanian untuk mendengar, dan kesanggupan untuk bekerja.
Usai ditetapkan sebagai ketua OSIS terpilih, Adel menyatakan kesiapannya mengemban amanah dengan menjunjung tinggi kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
“Saya akan berusaha menjadi pemimpin yang mampu mendengar aspirasi siswa SMAN 7, menjadi teladan bagi siswa, dan menjadi penghubung yang baik antara siswa, pengurus OSIS, serta pihak sekolah,” kata Adel.
Kepala Sekolah: Ketua OSIS Harus Jadi Teladan
Sementara itu, Kepala SMAN 7 Banda Aceh, Dra. Nuriati, M.Pd., mengingatkan bahwa jabatan ketua OSIS bukan sekadar posisi dalam struktur organisasi sekolah.
Menurutnya, ketua OSIS merupakan representasi sekaligus simbol kepemimpinan siswa. Karena itu, pemimpin OSIS dituntut mampu memberikan contoh positif kepada seluruh warga sekolah.
Nuriati berharap Adelia dapat menjalankan amanah tersebut dengan menunjukkan kedisiplinan, ketekunan dalam belajar, sikap tanggung jawab, serta terus mendorong lahirnya berbagai prestasi.
“Ketua OSIS merupakan simbol bagi semua siswa SMAN 7, maka harus mampu menjadi teladan dalam segala hal bagi semua siswa-siswi SMAN 7,” ujar Nuriati.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan pelajar tidak berhenti pada seremoni pelantikan atau pergantian kepengurusan. Ia harus tumbuh melalui keteladanan sehari-hari—dari kedisiplinan datang ke sekolah, kesungguhan belajar, keberanian menyampaikan gagasan, hingga kesediaan merangkul teman yang berbeda pilihan.
Dari Bilik Suara Menuju Kepemimpinan
Pemilihan Ketua OSIS SMAN 7 Banda Aceh masa bhakti 2026/2027 menjadi lebih dari sekadar pergantian kepengurusan. Ia merupakan ruang belajar demokrasi bagi para siswa.
Di sana, para pelajar belajar bahwa setiap suara memiliki nilai, setiap pilihan harus dihormati, dan setiap kemenangan membawa tanggung jawab.
Adelia kini berada di garis depan untuk membuktikan bahwa amanah tersebut bukan sekadar gelar.
Seluruh warga sekolah tentu menanti langkah berikutnya: apakah suara 266 siswa itu akan berhenti sebagai angka dalam lembar penghitungan, atau berubah menjadi energi untuk menghadirkan OSIS yang lebih kreatif, aspiratif, solid, dan berkemajuan.
Karena pada akhirnya, pemimpin yang baik bukan mereka yang paling lantang meminta dipercaya, melainkan mereka yang mampu membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah diberikan.(SGN/Rizki)














































Discussion about this post