Aceh Besar, Sinarglobalnusantara.com-
Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Semangat inilah yang mewarnai Festival Geulayang Tunang 2026 yang sukses digelar Sanggar Saweuna di Gampong Reuleung Geulumpang, Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, Senin (12/10/2026).
Mengusung tema “Dengan Semangat Juang Sultan Iskandar Muda, Mari Kita Lestarikan Budaya”, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan layang-layang tradisional khas Aceh, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, pengembangan kreativitas generasi muda, serta penguatan nilai persaudaraan dan perdamaian.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-11 Sanggar Saweuna yang berdiri sejak 10 Oktober 2015.
Ketua Sanggar Saweuna sekaligus penyelenggara kegiatan, Arif Firnandy, mengatakan bahwa Festival Geulayang Tunang merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali tradisi permainan rakyat Aceh yang mulai jarang dijumpai di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, geulayang tunang memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Pada masa lalu, permainan ini lazim dilakukan para pemuda setelah musim panen, ketika hamparan sawah yang telah kosong menjadi tempat berkumpul, menerbangkan layang-layang, dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Namun, perkembangan zaman dan perubahan pola hiburan membuat tradisi tersebut semakin jarang dimainkan. Karena itu, diperlukan ruang dan kegiatan nyata agar warisan budaya tersebut tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
“Melalui festival ini, kita ingin menghidupkan kembali tradisi geulayang tunang yang menjadi bagian dari budaya Aceh. Kita berharap generasi muda kembali mencintai budaya sendiri, mengembangkan kreativitas, dan menjadikan kegiatan positif seperti ini sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan,” ujar Arif.
Budaya sebagai Jembatan Persaudaraan dan Perdamaian
Arif menegaskan, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga membangun karakter generasi muda dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya, kegiatan budaya dapat menjadi wadah positif bagi pemuda untuk berkumpul, berkreasi, dan membangun solidaritas. Melalui aktivitas yang sehat dan produktif, generasi muda diharapkan mampu menjauhi narkoba serta tumbuh menjadi generasi yang kreatif, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Ia juga berharap semangat perjuangan Sultan Iskandar Muda dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Aceh untuk terus membangun daerah dengan menjunjung tinggi persatuan, nilai-nilai budaya, dan perdamaian.
“Semangat kejayaan masa lalu harus menjadi motivasi bagi kita untuk membangun Aceh yang lebih sejahtera, makmur, beradab, dan damai. Salah satu langkahnya adalah menjaga budaya, memperkuat persatuan, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya,” tambahnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu nilai penting yang ingin disampaikan melalui festival. Tradisi lokal diharapkan bukan hanya bertahan sebagai simbol kebudayaan, melainkan juga menjadi sarana mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Dua Kategori Lomba, Adu Kreativitas dan Ketangkasan
Dalam pelaksanaannya, panitia menggelar dua kategori perlombaan, yakni Lomba Geulayang Tunang dan Lomba Layang Hias.
Pada kategori Geulayang Tunang, peserta diwajibkan menggunakan benang sepanjang 350 meter. Layang-layang yang digunakan harus berwarna merah, kuning, atau hijau serta memuat gambar atau logo Alam Peudeung sesuai ketentuan panitia.
Persaingan berlangsung dengan melibatkan peserta dari sejumlah gampong di Kabupaten Aceh Besar.
Untuk kategori Geulayang Tunang, Muhammad Yuni dari Ule Ue, Kecamatan Indrapuri, berhasil meraih juara pertama. Juara kedua diraih Rahmat Danil dari Gampong Reuleung Geulumpang, Kecamatan Kuta Malaka, sedangkan juara ketiga diraih Grup Peng Bicah dari Weubada, Kecamatan Montasik.
Sementara itu, pada kategori Layang Hias, Haikal dari Gampong Reuleung Geulumpang meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Dely Rifki dari Lambaro Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, dan juara ketiga diraih Grup Peng Bicah dari Weubada, Kecamatan Montasik.
Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp500.000 untuk kategori Layang Hias.
Penilaian dilakukan oleh tiga orang juri, yakni Mukhlis, Munazar, dan Adli, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan panitia untuk masing-masing kategori.
Selain menjadi ajang kompetisi, perlombaan tersebut juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan keterampilan, kreativitas, dan kecintaan terhadap permainan tradisional Aceh.
Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan
Melalui Festival Geulayang Tunang 2026, Sanggar Saweuna berharap permainan rakyat khas Aceh dapat terus dikenal, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Upaya pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari komunitas seni, masyarakat gampong, keluarga, hingga generasi muda. Tanpa ruang untuk mengenal dan mempraktikkannya, tradisi berisiko semakin terpinggirkan oleh perubahan zaman.
Festival ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi kekuatan untuk membangun identitas, menumbuhkan kreativitas, dan mempererat hubungan sosial.
Bagi Sanggar Saweuna, menjaga geulayang tunang berarti turut merawat ingatan kolektif masyarakat Aceh. Lebih dari sekadar menerbangkan layang-layang, kegiatan ini membawa pesan bahwa persaudaraan, kepedulian, dan perdamaian harus terus dipelihara.
Harapannya, semangat yang tumbuh melalui festival tersebut tidak berhenti ketika perlombaan berakhir, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan masyarakat demi mewujudkan Aceh yang berbudaya, harmonis, dan damai.(SGN/Rizki)













































Discussion about this post