Aceh Utara, Sinarglobalnusantara.com-
Pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan besar dan megah. Terkadang, sesuatu yang tampak sederhana justru mampu meninggalkan manfaat yang panjang. Seperti setitik tinta yang kecil, tetapi mampu memberi makna pada selembar kertas.
Semangat itulah yang dibawa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 36 Universitas Malikussaleh saat memasang plang nama lorong di Desa Krueng Seunong, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (22/8/2026).
Bagi sebagian orang, plang nama mungkin hanya sebatas papan penunjuk arah. Namun di balik kesederhanaannya, terdapat manfaat yang tidak kecil. Ia menjadi penanda identitas wilayah, penunjuk jalan bagi pendatang, sekaligus bagian kecil dari wajah sebuah desa.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja KKN Kelompok 36 untuk membantu meningkatkan kemudahan identifikasi wilayah serta memberikan penanda yang lebih jelas bagi masyarakat maupun pendatang yang melintas di Desa Krueng Seunong.
Dengan semangat gotong royong, mahasiswa KKN bersama warga bahu-membahu melaksanakan pemasangan plang. Mulai dari menentukan lokasi, mempersiapkan plang nama, memasang tiang hingga memastikan penanda tersebut berdiri kokoh dan mudah terlihat oleh pengguna jalan.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas desa, tangan mahasiswa dan warga bertemu dalam satu kerja sederhana. Tidak ada sekat antara kampus dan masyarakat, sebab gotong royong selalu memiliki bahasa yang sama: bekerja bersama untuk kemaslahatan bersama.
Ketua KKN Kelompok 36 Universitas Malikussaleh, Muhammad Akmal Fadilah, mengatakan pemasangan plang nama lorong merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung penataan lingkungan dan memberikan manfaat yang dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami berharap pemasangan plang nama lorong ini dapat membantu masyarakat maupun pendatang dalam mengenali lokasi dan memudahkan akses menuju wilayah tertentu di Desa Krueng Seunong. Kami juga ingin meninggalkan program yang memiliki manfaat nyata dan dapat terus digunakan oleh masyarakat setelah kegiatan KKN selesai,” ujar Muhammad Akmal Fadilah.
Program sederhana tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Krueng Seunong. Geuchik Desa Krueng Seunong, Muhammad Datul Abrar, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN Kelompok 36 yang turut membantu melengkapi fasilitas penunjuk wilayah di desa.
Menurutnya, keberadaan plang nama lorong dapat membantu masyarakat maupun tamu dari luar desa dalam mengenali lokasi sekaligus menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan lingkungan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN Kelompok 36 yang telah membantu memasang plang nama lorong di desa kami. Plang ini dapat memudahkan masyarakat dan pendatang dalam mengetahui nama serta lokasi lorong. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi kenangan baik selama mahasiswa melaksanakan KKN di Desa Krueng Seunong,” ujar Muhammad Datul Abrar.
Pemasangan plang nama lorong juga menjadi gambaran bagaimana kampus dan desa dapat bertemu dalam satu ruang pengabdian. Ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan tidak berhenti menjadi teori, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan sederhana yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sebuah papan ditancapkan ke tanah, tetapi sesungguhnya yang sedang ditanam adalah sebuah kenangan. Sebuah nama dipasang di lorong, tetapi di baliknya tersimpan cerita tentang mahasiswa yang pernah datang, bekerja, dan meninggalkan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa dan masyarakat. Dengan bergotong royong, pekerjaan yang sederhana menjadi lebih bermakna karena dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
Mahasiswa KKN Kelompok 36 berharap fasilitas penunjuk wilayah tersebut dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan setelah masa KKN berakhir.
Sebab, KKN bukan sekadar tentang datang, tinggal, lalu kembali ke kampus. KKN adalah tentang meninggalkan sesuatu yang membuat kehadiran mahasiswa tetap dikenang meski langkah mereka telah meninggalkan desa.
Dan di Desa Krueng Seunong, jejak itu kini berdiri di pinggir lorong—sebuah plang yang mungkin sederhana bagi mata, tetapi menjadi simbol kecil bahwa pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar pergi. Ia akan tetap tinggal melalui manfaat yang diwariskan.
Kecil bentuknya, besar manfaatnya. Singkat waktunya, panjang kenangannya.(SGN/Rizki)













































Discussion about this post