Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Transformasi yang dilakukan PTPN IV Regional II di Kebun Bah Birung Ulu mulai menunjukkan hasil nyata. Kebun yang dulunya dikenal sebagai areal perkebunan teh itu kini menjelma menjadi salah satu sentra produksi kelapa sawit dengan tren pertumbuhan yang menjanjikan.
Memasuki Semester I 2026, Kebun Bah Birung Ulu sukses membukukan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO) hingga dua digit. Capaian tersebut tidak hanya menjadi indikator meningkatnya produktivitas, tetapi juga mencerminkan keberhasilan transformasi operasional yang dijalankan secara konsisten.
Data operasional menunjukkan produksi TBS Semester I 2026 mencapai 22.139 ton, meningkat 16,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 18.969 ton. Seiring meningkatnya pasokan bahan baku, produksi CPO juga melonjak 17,14 persen, dari 4.742 ton menjadi 5.555 ton.
Tak hanya mengejar kuantitas, kualitas pengolahan pun terus mengalami penyempurnaan. Rendemen minyak sawit meningkat menjadi 25,09 persen, lebih tinggi dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 25,00 persen. Peningkatan ini menjadi sinyal bahwa efisiensi proses panen hingga pengolahan terus membaik.
Manajer Kebun Bah Birung Ulu PTPN IV Regional II, Yuna Shaund H.S. Damanik, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja kolektif seluruh insan perusahaan dalam menjalankan program perbaikan berkelanjutan.
“Peningkatan produksi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh karyawan. Namun kami tidak ingin cepat berpuas diri. Masih banyak ruang perbaikan yang terus kami lakukan, mulai dari pemeliharaan tanaman, peningkatan mutu panen, pelaksanaan Hatch and Carry pada tanaman muda dan remaja, perbaikan infrastruktur hingga penguatan kompetensi sumber daya manusia,” ujar Yuna.
Menurutnya, Kebun Bah Birung Ulu memiliki tantangan tersendiri. Selain berada di wilayah dengan elevasi tertentu, areal tersebut merupakan bekas perkebunan teh yang telah dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit. Kondisi itu membuat pengelolaan kebun membutuhkan strategi yang berbeda dibandingkan perkebunan sawit pada umumnya.
Meski jumlah populasi tanaman baru berada di kisaran 70 persen dari standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), produktivitas terus mengalami peningkatan. Dalam tiga tahun terakhir, produktivitas kebun meningkat dari 8,10 ton TBS per hektare pada Semester I 2024 menjadi 9,94 ton per hektare di Semester I 2025, dan kembali naik menjadi 11,60 ton per hektare pada Semester I 2026.
Peningkatan produktivitas tersebut turut berdampak terhadap kinerja keuangan perusahaan. Laba per hektare naik menjadi Rp20,65 juta, lebih tinggi dibandingkan Semester I 2025 yang tercatat Rp17,14 juta per hektare.
Infrastruktur dan SDM Menjadi Fondasi Transformasi
Transformasi Kebun Bah Birung Ulu tidak hanya dilakukan pada aspek budidaya tanaman, tetapi juga menyentuh pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Perbaikan jalan produksi terus dilakukan secara bertahap. Jalan yang mengalami kerusakan berat diperbaiki melalui pengecoran, sedangkan ruas jalan dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang ditingkatkan melalui pengerasan agar distribusi hasil panen semakin lancar dan efisien.
Di sisi lain, perusahaan juga secara rutin mengirimkan Mandor I, Mandor Panen, dan Mandor Pemeliharaan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Holding Perkebunan Nusantara sebagai upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan lapangan dan efektivitas operasional.
“Bagi kami, peningkatan produksi tidak hanya ditentukan oleh tanaman yang baik, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang mengelolanya. Karena itu, pengembangan kompetensi karyawan akan terus menjadi prioritas,” kata Yuna.
Tumbuh Bersama Masyarakat
Di balik peningkatan kinerja perusahaan, Kebun Bah Birung Ulu juga terus memperkuat komitmennya terhadap masyarakat sekitar.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan aktif membantu pembangunan infrastruktur, termasuk semenisasi jalan yang menjadi akses masyarakat. Selain itu, warga sekitar juga dilibatkan sebagai tenaga pengamanan maupun tenaga panen sesuai kebutuhan perusahaan.
Asisten Personalia Kebun Bah Birung Ulu, Bobby Y.F. Saragih, menegaskan bahwa perusahaan ingin menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin perusahaan tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, selain membuka kesempatan kerja, kami juga terus menjalankan program sosial yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Menurut Bobby, komunikasi yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, dan kolaborasi dengan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan.
Dengan pertumbuhan produksi TBS sebesar 16,71 persen dan CPO sebesar 17,14 persen pada Semester I 2026, Kebun Bah Birung Ulu optimistis mampu melanjutkan tren positif tersebut melalui transformasi operasional, penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa transformasi sebuah kebun tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang demi mendukung kinerja berkelanjutan PTPN IV Regional II dan PTPN IV PalmCo.(SGN/R01)











































Discussion about this post