Bogor, Sinarglobalnusantara.com-
Tiga belas tahun bukan sekadar angka bagi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Fans of Rhoma and Soneta (Porsa) Kabupaten Bogor. Di balik perjalanan panjang tersebut, tersimpan komitmen untuk menjaga warisan musik dan pesan moral karya H. Rhoma Irama, sekaligus menjadikan kebersamaan para penggemarnya sebagai energi untuk menebar kepedulian sosial.
Semangat itu mengemuka dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Porsa Kabupaten Bogor yang digelar meriah di Gedung Serbaguna 1 Pemda Kabupaten Bogor, Minggu (6/9/2026).
Ketua Porsa Kabupaten Bogor, Romi, mengisahkan kembali perjalanan organisasi yang menjadi wadah para pencinta musik Raja Dangdut tersebut.
Menurutnya, cikal bakal Porsa bermula dari sebuah pertemuan penting ketika dirinya mendapat undangan langsung dari H. Rhoma Irama ke Soneta Record untuk menghadiri rapat akbar.
Pertemuan yang dihadiri berbagai elemen masyarakat itu kemudian melahirkan kesepakatan pembentukan Porsa pada 4 April 2013.
“Tujuan utama Porsa adalah melestarikan karya-karya emas H. Rhoma Irama. Selain itu, wadah ini dibentuk untuk menyambung tali silaturahmi sesama fans, baik yang berada di seluruh penjuru Indonesia maupun di luar negeri,” ujar Romi kepada awak media di sela-sela acara, Minggu (6/9).
Kini, 13 tahun perjalanan tersebut mulai menjelma menjadi kekuatan organisasi yang cukup solid di Kabupaten Bogor.
Dari 40 kecamatan yang ada di wilayah Bumi Tegar Beriman, Porsa telah membentuk 30 Pengurus Anak Cabang (PAC), dengan jumlah anggota aktif mencapai lebih dari 200 orang.
Namun, bagi Romi, kekuatan Porsa tidak semata-mata diukur dari banyaknya anggota maupun luasnya jaringan organisasi.
Lebih dari sekadar berkumpul, bernyanyi, dan menikmati lantunan musik dangdut, Porsa berupaya menerjemahkan pesan-pesan moral dalam karya Rhoma Irama menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.
Salah satunya melalui aksi kemanusiaan dan kegiatan sosial. Porsa Kabupaten Bogor secara berkala memberikan santunan kepada anak yatim serta turun langsung membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.
Bantuan pun tidak hanya berhenti di lingkungan Kabupaten Bogor. Porsa pernah menyalurkan kepedulian bagi korban bencana di Sukajaya, Bogor, hingga turut memberikan donasi bagi masyarakat yang terdampak bencana besar di Aceh.
“Porsa bukan hanya tempat berkumpul para penggemar. Kami juga ingin hadir untuk masyarakat melalui kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan,” tegas Romi.
Memasuki usia ke-13, Porsa Kabupaten Bogor pun tidak ingin berhenti pada romantisme perjalanan masa lalu.
Organisasi tersebut bertekad memperluas jaringan, memperkuat kebersamaan, serta membangun sinergi dengan berbagai komunitas dan pelaku seni budaya lainnya.
Bagi Porsa, karya-karya Rhoma Irama bukan hanya rangkaian nada dan syair yang menghibur. Di dalamnya terdapat pesan religi, kritik sosial, nilai perjuangan, serta ajakan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Karena itu, Porsa Kabupaten Bogor ingin menjadikan musik sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan kebaikan—dari panggung hiburan menuju ruang-ruang kehidupan masyarakat.
“Ke depan, kami akan terus bersinergi untuk menyebarkan bait-bait syair kebaikan dari karya H. Rhoma Irama, baik yang bernuansa religi, sosial, maupun pesan politik yang membangun,” pungkas Romi.
Tiga belas tahun telah berlalu. Nada boleh terus bergema, zaman boleh berubah, tetapi pesan kebaikan dalam setiap syair diharapkan tetap hidup dan menjadi cahaya yang menerangi langkah Porsa di tengah masyarakat.
Kalau ingin dibuat lebih “meledak” untuk portal berita, judulnya juga bisa dibuat lebih pendek dan kuat, misalnya: “13 Tahun Porsa Kabupaten Bogor: Dari Syair Rhoma Irama hingga Aksi Kemanusiaan”.(SGN/Yunorso)














































Discussion about this post