Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pemerintahan dan penegakan hukum, sebuah tangisan dari kamar rumah sakit mendadak mengusik nurani banyak pihak. Tangisan itu bukan berasal dari seorang pasien, melainkan dari seorang anak yang menyaksikan ayahnya terbaring lemah setelah kehilangan tangan dalam peristiwa yang kini mengguncang Aceh.
Tangisan tersebut akhirnya sampai ke telinga Anggota Komisi I DPD RI asal Aceh, H. Sudirman (Haji Uma). Bukan laporan resmi, bukan pula surat pengaduan berlembar-lembar. Hanya suara seorang anak yang memohon pertolongan untuk ayahnya yang sedang berjuang antara rasa sakit, trauma, dan ketidakpastian hukum.
Menurut Haji Uma, anak korban menghubunginya sambil menangis. Dalam pengakuannya, ia menyebut sang ayah menjadi korban pemotongan tangan setelah dituduh mencuri, tuduhan yang menurut keluarga belum pernah dibuktikan melalui proses hukum yang sah.
“Saya menerima laporan dari anak korban yang menangis meminta bantuan. Ia mengatakan ayahnya kehilangan tangan akibat tuduhan yang menurut mereka belum terbukti, bahkan menyebut adanya dugaan keterlibatan seorang oknum perwira polisi,” ungkap Haji Uma, Kamis (18/6/2026).
Mendengar laporan tersebut, Haji Uma langsung menginstruksikan stafnya mendatangi RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh untuk memastikan kondisi korban sekaligus menyerahkan bantuan biaya makan kepada keluarga yang mendampingi selama masa perawatan.
Bukan Membela, Tetapi Menjaga Kemanusiaan
Haji Uma menegaskan, bantuannya bukan bentuk pembelaan terhadap pihak yang dituduh melakukan pelanggaran hukum. Baginya, persoalan ini jauh lebih mendasar: kemanusiaan.
“Siapa pun berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi. Jika ada tuduhan, biarlah hukum yang membuktikannya. Jangan ada penghakiman sebelum ada keputusan yang sah,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul di tengah derasnya berbagai narasi yang berkembang terkait kasus tersebut. Haji Uma memilih berdiri pada satu titik yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan siapa pun: asas praduga tak bersalah.
Versi Keluarga: Berawal dari Dua Buah Mangga, Berakhir dengan Darah
Di balik tragedi yang kini menjadi perhatian publik, tersimpan cerita yang menurut keluarga korban penuh kejanggalan.
Riva Novianty (20), anak korban, menceritakan bahwa ayahnya, Bahtiar, saat itu sedang menuju kolam ikan milik kerabat bersama beberapa rekannya. Mereka membawa tanggok ikan dan sebilah pisau dapur yang disebut digunakan untuk kebutuhan di lokasi.
Dalam perjalanan, salah satu rekan korban memetik dua buah mangga. Tak lama kemudian terdengar teriakan “maling” yang memicu kepanikan.
Dua rekannya berhasil melarikan diri. Namun Bahtiar yang mengalami gangguan pada kaki disebut tidak mampu berlari dan akhirnya dikepung massa.
Menurut keluarga, korban sempat mengacungkan pisau karena merasa terancam. Namun setelah diminta membuang senjata tersebut, ia disebut menuruti permintaan warga dan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
Yang terjadi setelah itu, menurut versi keluarga, menjadi mimpi buruk yang tidak pernah mereka bayangkan.
Korban disebut ditendang hingga kehilangan keseimbangan. Dalam situasi tersebut, seorang pria yang diduga oknum aparat disebut menebaskan senjata tajam ke arah tangan korban hingga putus. Bahtiar pun roboh bersimbah darah. Jeritan kesakitan menggema. Sementara keluarganya kini harus menanggung luka yang tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis.
Luka yang Belum Selesai
Di ruang perawatan rumah sakit, perjuangan keluarga belum berakhir. Selain harus menghadapi kondisi korban yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya, mereka kini dihantui persoalan biaya pengobatan.
Menurut Haji Uma, keluarga mengaku tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menanggung biaya perawatan yang terus berjalan. Mereka juga mempertanyakan kepastian pembiayaan medis yang harus dibayarkan.
Di tengah ketidakpastian itu, keluarga hanya memiliki satu harapan: kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan.
Publik Menunggu Jawaban
Kasus ini kini tidak lagi sekadar menjadi peristiwa kriminal biasa. Ia telah berubah menjadi ujian bagi penegakan hukum, rasa keadilan, dan kemanusiaan.
Haji Uma meminta aparat kepolisian mengusut kasus tersebut secara transparan dan profesional agar seluruh fakta terungkap secara terang benderang.
“Saya tidak berpihak kepada siapa pun selain kebenaran. Jika ada yang bersalah, harus dihukum. Jika ada yang dizalimi, harus mendapatkan keadilan,” tegasnya.
Kini, di tengah suara alat medis dan aroma obat-obatan rumah sakit, seorang ayah berjuang memulihkan diri. Di sampingnya, seorang anak terus berharap tangisannya tidak hanya didengar, tetapi juga dijawab oleh keadilan.(SGN/Rizki)













































Discussion about this post