Aceh Tamiang, Sinarglobalnusantara.com-
Api semangat kepemudaan kembali dinyalakan di tubuh Organisasi Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Aceh Tamiang. Kali ini, bara itu datang dari perpaduan pengalaman, prestasi, dan keberanian untuk bergerak lebih jauh.
Kehadiran M. Prawira Haji, mantan Sekretaris Jenderal PPI Aceh, bersama Zilqueensa ALS, Purna Paskibraka Nasional asal Aceh Tamiang, menjadi warna baru yang diharapkan mampu mendorong PPI tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para alumni Paskibraka, tetapi menjelma menjadi mesin penggerak kepemudaan di Bumi Muda Sedia.
Ketua PPI Aceh Tamiang, Rizki Muammar, menyampaikan bahwa pengalaman dan rekam jejak keduanya menjadi energi positif bagi organisasi.
Bagi PPI Aceh Tamiang, pengalaman bukan untuk dipajang sebagai cerita masa lalu. Pengalaman harus menjadi kompas, prestasi harus menjadi bahan bakar, dan organisasi harus menjadi kendaraan yang membawa pemuda menuju masa depan.
Di tengah derasnya perubahan zaman, organisasi kepemudaan dituntut tidak hanya pandai berbicara, tetapi mampu menghadirkan langkah nyata. Sebab, pemuda yang hanya sibuk mengulang cerita kejayaan masa lalu ibarat perahu yang terus membanggakan pelabuhan, tetapi lupa berlayar menuju samudera.
M. Prawira Haji menegaskan bahwa Purna Paskibraka memiliki modal karakter yang kuat berupa kedisiplinan, kepemimpinan, nasionalisme, serta semangat pengabdian.
“Purna Paskibraka memiliki nilai dasar kedisiplinan, kepemimpinan, dan kecintaan pada tanah air. Saatnya energi ini kita arahkan untuk karya nyata, melahirkan inovasi, serta memotivasi generasi muda Aceh Tamiang agar berani tampil dan berprestasi.”
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa seragam Paskibraka tidak seharusnya berhenti menjadi simbol kebanggaan ketika upacara selesai.
Bendera boleh diturunkan dari tiangnya, tetapi semangat pengabdian tidak boleh ikut diturunkan dari dada para purnapaskibraka.
Justru setelah masa tugas selesai, tantangan yang sesungguhnya dimulai: bagaimana nilai disiplin, kepemimpinan dan nasionalisme yang pernah ditempa dapat dikonversi menjadi kerja sosial, inovasi, prestasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Zilqueensa ALS, Purna Paskibraka Nasional asal Aceh Tamiang, menegaskan bahwa anak muda daerah memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional, bahkan lebih luas lagi.
“Prestasi di tingkat nasional adalah bukti bahwa anak muda Aceh Tamiang mampu bersaing di kancah manapun. Kuncinya ada pada kerja keras, mental pantang menyerah, dan tekad untuk terus belajar. Kita ingin melahirkan lebih banyak lagi pemuda yang membawa nama harum daerah.”
Pesan tersebut menjadi tamparan sekaligus penyemangat bagi generasi muda. Sebab, keterbatasan bukan selalu tembok; terkadang ia hanyalah pintu yang menunggu keberanian untuk didorong.
Prestasi tidak lahir dari tepuk tangan. Ia tumbuh dari latihan yang panjang, kegagalan yang berulang, disiplin yang tidak terlihat kamera, serta keberanian untuk bangkit ketika langkah sempat tersandung.
Karena itu, PPI Aceh Tamiang diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk belajar memimpin, berorganisasi, berkarya, dan mengabdi.
Rizki Muammar bersama jajaran PPI Aceh Tamiang juga didorong untuk menjadikan momentum tersebut sebagai titik tolak penguatan berbagai program pembinaan kepemimpinan, aksi sosial, pengembangan kapasitas pemuda, serta penciptaan ruang bagi lahirnya prestasi baru.
Jangan sampai organisasi hanya ramai ketika ada seremoni, tetapi sunyi ketika masyarakat membutuhkan aksi. Jangan pula Paskibraka hanya dikenang karena barisan yang rapi, sementara semangat pengabdiannya kehilangan arah setelah upacara usai.
PPI memiliki modal besar: disiplin, solidaritas, pengalaman, dan jaringan alumni. Tinggal bagaimana modal tersebut dipukul menjadi percikan yang mampu menyalakan obor perubahan.
Sebab Aceh Tamiang tidak kekurangan anak muda yang hebat. Yang dibutuhkan adalah ruang, kesempatan, keberanian, dan kepemimpinan yang mampu mengubah potensi menjadi prestasi.
Kini bola berada di tangan generasi muda.
Jika energi ini benar-benar dijaga, PPI Aceh Tamiang bukan hanya akan menjadi rumah bagi para purna Paskibraka, tetapi dapat menjadi kawah tempat lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang kelak berdiri di garis depan perubahan daerah.
Bendera telah berkali-kali dikibarkan. Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang pernah berdiri di bawah tiangnya, tetapi siapa yang bersedia melanjutkan semangatnya dalam kehidupan nyata.
Dari Aceh Tamiang, api itu kembali menyala. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menyalakan masa depan.(SGN/Rizki)















































Discussion about this post