Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Dugaan utang fantastis senilai Rp416 miliar yang membelit Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh kini menjadi sorotan tajam publik. Nilai utang yang disebut menumpuk selama lima tahun terakhir itu memunculkan pertanyaan besar: ke mana aliran dana rumah sakit terbesar di Aceh tersebut selama ini bermuara?
Angka Rp416 miliar bukanlah nominal kecil. Dalam kalkulasi pembangunan sektor kesehatan, dana sebesar itu bahkan dinilai cukup untuk membangun sebuah rumah sakit modern dengan fasilitas lengkap. Karena itu, munculnya beban utang ratusan miliar rupiah di institusi yang menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan masyarakat Aceh dianggap sebagai alarm keras yang tidak boleh diabaikan.
Sejumlah kalangan menilai persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai sekadar masalah administrasi atau keterlambatan pembayaran kepada pihak ketiga. Akumulasi utang dalam jumlah sangat besar dan berlangsung selama bertahun-tahun mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola keuangan yang wajib diungkap secara transparan.
Analis Kebijakan Publik, Nasrul Zaman, secara tegas mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Aceh agar tidak terburu-buru memberikan legitimasi terhadap utang tersebut sebelum dilakukan audit investigatif yang menyeluruh.
Menurutnya, publik berhak mengetahui secara rinci bagaimana kondisi keuangan RSUZA hingga dapat terjerat utang dalam skala yang sangat besar.
“Audit investigatif harus dilakukan secara komprehensif dengan pendekatan follow the money. Setiap rupiah yang keluar harus dapat dipertanggungjawabkan. Publik berhak mengetahui ke mana aliran dana itu bergerak dan apa yang menyebabkan utang sebesar ini terjadi,” tegas Nasrul.
Lebih jauh, ia menilai aparat penegak hukum tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah polemik yang terus berkembang. Kepolisian dan Kejaksaan diminta segera melakukan penyelidikan awal untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pelanggaran hukum di balik membengkaknya utang tersebut.
Pasalnya, defisit yang terjadi secara terus-menerus selama bertahun-tahun dapat menjadi indikator adanya kegagalan pengelolaan keuangan, penyalahgunaan kewenangan, bahkan potensi kerugian negara apabila ditemukan praktik yang tidak sesuai aturan.
“Jangan sampai persoalan ini berakhir hanya dengan pembahasan angka dan skema pembayaran. Yang jauh lebih penting adalah mengungkap penyebab sebenarnya. Jika ada unsur pelanggaran hukum, maka harus diproses secara terbuka dan tegas,” ujarnya.
Sorotan terhadap RSUZA juga semakin menguat karena rumah sakit tersebut merupakan fasilitas kesehatan milik pemerintah yang mengelola anggaran besar dan menjadi rujukan utama masyarakat Aceh. Karena itu, setiap persoalan keuangan yang muncul memiliki dampak langsung terhadap pelayanan publik.
Pengamat menilai, jika persoalan ini tidak segera dibuka secara terang-benderang, maka kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan sektor kesehatan dapat tergerus. Lebih dari itu, keberlangsungan pelayanan kepada pasien juga berpotensi terdampak apabila beban utang terus membengkak.
Kini, publik menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah, lembaga pengawas, serta aparat penegak hukum. Audit investigatif yang independen, transparan, dan profesional dianggap sebagai pintu masuk untuk mengungkap fakta sesungguhnya di balik utang Rp416 miliar yang mengguncang dunia kesehatan Aceh.
Di tengah besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, satu pertanyaan yang terus bergema adalah: bagaimana mungkin rumah sakit terbesar di Aceh bisa terjerat utang hingga Rp416 miliar tanpa terdeteksi dan tertangani sejak awal?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh belum berhasil dikonfirmasi,namun pertanyaan kemana aliran dan tersebut mengalir tentu menjadi pertanyaan publik dan menuntut jawaban yang jujur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Sebab di balik angka ratusan miliar tersebut, terdapat uang negara, kepentingan masyarakat, dan masa depan pelayanan kesehatan Aceh yang dipertaruhkan.(SGN/Rizki)















































Discussion about this post