Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Menindaklanjuti sorotan publik terkait pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp1,53 miliar tahun anggaran 2024 dan 2025 di SMP Negeri 1 Silimakuta, Wakil Ketua DPRD Simalungun, Samrin Girsang, S.Pd., turun langsung melakukan inspeksi lapangan ke sekolah tersebut pada Selasa (23/06/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai respons atas pemberitaan Sinar Global Nusantara yang sebelumnya mengungkap sejumlah dugaan ketidaksesuaian antara besarnya anggaran yang dikelola sekolah dengan kondisi fasilitas yang ditemukan di lapangan.
Dalam peninjauan tersebut, Samrin Girsang mengakui bahwa kondisi perpustakaan sekolah memang jauh dari harapan dan membutuhkan perhatian serius.
“Terkait persoalan ini nanti akan kita cocokkan dengan hasil audit BPK. Memang kondisi perpustakaannya kurang layak dan kurang nyaman untuk dikunjungi. Dari DPRD tentu akan kita tindak lanjuti agar ada perbaikan dan pembenahan,” tegas Samrin kepada Sinar Global Nusantara.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kondisi perpustakaan yang memprihatinkan. Buku-buku terlihat berserakan dan tidak tertata sebagaimana mestinya. Di sejumlah sudut ruangan tampak sisa-sisa abu dan debu yang diduga baru dibersihkan setelah munculnya sorotan publik melalui pemberitaan media dan menginformasikan DPRD Simalungun tinjau lapangan.
Bahkan, salah seorang pegawai yang berada di lingkungan sekolah mengakui bahwa perpustakaan tersebut jarang, bahkan hampir tidak pernah dikunjungi siswa.
Fakta lain yang cukup mengejutkan terungkap saat kunjungan berlangsung. SMP Negeri 1 Silimakuta ternyata telah memiliki gedung perpustakaan baru yang dibangun sebelumnya. Namun, ruangan tersebut saat ini tidak difungsikan sebagai perpustakaan, melainkan dijadikan ruang kelas atas kebijakan Rosella Ginting selaku kepala sekolah dengan alasan keterbatasan ruang belajar.
Temuan tersebut semakin menambah daftar pertanyaan publik terhadap penggunaan anggaran pengembangan perpustakaan yang tercatat mencapai sekitar Rp469 juta dalam kurun 2024 hingga 2025. Jika tidak dipergunakan untuk memacu semangat belajar siswa lalu untuk apa mengelontorkan uang rakyat yang cukup fantastis namun sia sia. Dan jika buku buku tersebut tidak untuk dibaca anak didik lalu apakah buku buku tersebut hanya formalitas dan setelah usang lalu dibuang atau di jual ke pasar loak dengn harga murah. Ini tentu sangatlah miris dipertontonkan bagi rakyat disaat pemerintah menggemakan efisiensi anggaran.
Sebelumnya juga, seperti diberitakan media Inspirasi Rakyat Nusantara ini, berdasarkan data yang diperoleh Sinar Global Nusantara, sekolah tersebut menerima Dana BOS sekitar Rp1,53 miliar selama dua tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, sedikitnya terdapat empat pos anggaran yang menjadi sorotan masyarakat, yakni pengembangan perpustakaan, pemeliharaan sarana dan prasarana, administrasi kegiatan sekolah, serta pengadaan alat multimedia pembelajaran.
Selain perpustakaan, tim juga menemukan sejumlah fasilitas yang dinilai masih membutuhkan perhatian. Kondisi toilet sekolah tampak kurang terawat, beberapa pintu mengalami kerusakan, saluran pembuangan tidak berfungsi optimal, serta area sekitar kamar mandi terlihat dipenuhi semak dan menimbulkan aroma tidak sedap.


Kondisi lingkungan sekolah secara umum juga terlihat kusam dan kurang mendapat perawatan maksimal, sehingga dinilai kurang mendukung terciptanya suasana belajar yang nyaman bagi peserta didik.

Temuan-temuan tersebut memunculkan pertanyaan yang kini menjadi perhatian masyarakat: apabila ratusan juta rupiah telah dialokasikan untuk pengembangan perpustakaan dan pemeliharaan sarana-prasarana, mengapa sejumlah fasilitas penting masih ditemukan dalam kondisi yang memerlukan pembenahan?

Selain itu, publik juga menyoroti penggunaan anggaran administrasi kegiatan sekolah yang mencapai lebih dari Rp212 juta serta pengadaan alat multimedia pembelajaran sekitar Rp45 juta. Masyarakat berharap pihak sekolah dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai realisasi penggunaan dana tersebut agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi.
Sementara itu, hingga berita ini telah ditayangkan sebelumnya dan hingga kini, Kepala SMP Negeri 1 Silimakuta, Rosella Ginting, belum memberikan tanggapan atas berbagai pertanyaan yang telah disampaikan redaksi Sinar Global Nusantara terkait penggunaan Dana BOS tersebut.
Dengan adanya kunjungan lapangan DPRD Simalungun dan rencana pencocokan data dengan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), masyarakat kini menantikan tindak lanjut konkret untuk memastikan pengelolaan Dana BOS berjalan sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas, dan benar-benar memberikan manfaat bagi dunia pendidikan.(SGN/R01/Raya)














































Discussion about this post