INHU, Sinarglobalnusantara.com-
Di tengah derasnya keuntungan industri perkebunan, warga Desa Danau Rambai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, justru harus berjibaku dengan jalan desa yang rusak parah. Kondisi memprihatinkan itu kini memunculkan pertanyaan besar: di mana kontribusi sosial dan lingkungan perusahaan yang selama ini beroperasi di wilayah mereka?
Sorotan mengarah kepada PT PAS (Prima Agro Sawitindo), perusahaan yang berstatus KSO dari Agrinas Palma Nusantara dan mengelola aset negara di Desa Danau Rambai.
Padahal, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012, perusahaan diwajibkan melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar area operasionalnya.
Namun fakta yang ditemukan di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar.
Berawal dari konfirmasi awak media kepada Kepala Desa Danau Rambai, Saharudin, pada 3 Juni 2026 terkait kontribusi perusahaan bagi masyarakat desa. Jawaban yang diberikan terbilang mengejutkan.
“Seingat saya hingga saat ini belum ada, Pak,” tulis Saharudin singkat melalui pesan WhatsApp.
Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh hasil investigasi lapangan yang dilakukan awak media pada Sabtu (20/6/2026). Sepanjang ruas jalan desa yang menghubungkan Dusun Tanah-Tunggu hingga Talang-Pae, terlihat kerusakan cukup parah. Lubang menganga di berbagai titik, badan jalan yang amblas, hingga genangan yang menyerupai kubangan menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga.
Bahkan, beberapa ruas disebut warga sudah sulit dilalui kendaraan bermuatan. Ironisnya, jalan tersebut bukan hanya menjadi akses utama masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, tetapi juga merupakan jalur yang selama ini digunakan kendaraan operasional perusahaan.
“Kalau musim hujan, jalan ini makin parah. Kami yang susah membawa hasil kebun. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan berarti,” keluh seorang warga.
Warga mengaku kecewa karena kerusakan jalan yang terus terjadi tidak diiringi dengan upaya perbaikan yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Klaim Perusahaan Berbeda dengan Fakta Lapangan
Saat dikonfirmasi terpisah, Guruh TB Simatupang yang mengaku sebagai Asisten Lapangan PAS 2 sekaligus Humas perusahaan menyatakan bahwa pihaknya rutin melakukan perbaikan jalan desa tersebut. Namun, pernyataan itu justru bertolak belakang dengan kondisi yang ditemukan awak media di lapangan.
Kerusakan jalan masih terlihat masif dan terjadi hampir di sepanjang jalur utama desa. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas perbaikan yang diklaim perusahaan.
Tak hanya itu, warga juga mulai mempertanyakan penggunaan jalan desa selama ini. Pasalnya, sejumlah kendaraan perusahaan kini diduga memilih melintas melalui jalur alternatif di dalam areal perkebunan untuk menghindari ruas jalan yang telah rusak berat.
Fakta tersebut memunculkan dugaan lain di tengah masyarakat: jika jalan desa sudah tidak layak dilalui kendaraan perusahaan, mengapa kerusakannya dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius?
Jalan Rusak, Ekonomi Warga Terancam
Bagi masyarakat Danau Rambai, persoalan ini bukan sekadar soal infrastruktur. Jalan yang rusak telah menjadi ancaman nyata terhadap aktivitas ekonomi warga. Hasil sawit, karet, dan komoditas pertanian lainnya bergantung pada akses jalan tersebut untuk sampai ke pasar.
Ketika jalan rusak, biaya angkut meningkat, waktu tempuh bertambah, dan potensi kerugian ekonomi masyarakat semakin besar.
Warga kini mendesak pemerintah, instansi terkait, hingga manajemen PT PAS dan Agrinas Palma Nusantara untuk turun langsung melihat kondisi yang mereka alami setiap hari.
Masyarakat berharap perusahaan yang mengelola aset negara tidak hanya hadir untuk menjalankan aktivitas bisnis, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab sosial yang nyata kepada masyarakat yang hidup berdampingan dengan operasional perusahaan.
Sebab bagi warga Danau Rambai, jalan desa bukan sekadar hamparan tanah yang dilalui kendaraan. Jalan itu adalah urat nadi kehidupan, penghubung ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan masa depan masyarakat.
Dan ketika urat nadi itu rusak, pertanyaan yang kini menggema dari pelosok Danau Rambai menjadi semakin lantang: Ke mana sebenarnya tanggung jawab sosial perusahaan selama ini?.(SGN/RHS)














































Discussion about this post