Lhokseumawe, Sinarglobalnusantara.com-
Pantai Ujong Bate, Lhokseumawe, menjadi saksi ketika sekat perlahan mencair. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, mahasiswa Sosiologi Universitas Malikussaleh dari berbagai angkatan berkumpul dalam suasana penuh keakraban melalui Meurasa, sebuah temu ramah yang mengusung semangat meusaboh rakan mahasiswa Sosiologi.
Bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, Meurasa menjadi ruang untuk mempertemukan wajah-wajah baru dengan mereka yang lebih dahulu menapaki jalan akademik dan organisasi.
Mahasiswa baru Program Studi Sosiologi angkatan 2026 berkesempatan mengenal lebih dekat lingkungan akademik, senior, pengurus HIMASOS, demisioner, hingga alumni.
Di tengah debur ombak dan suasana pantai yang santai, pertemuan lintas generasi mahasiswa itu menjadi gambaran bahwa keluarga besar Sosiologi tidak dibangun hanya oleh kesamaan program studi, tetapi juga oleh komunikasi, kepedulian, dan rasa memiliki.
Karena sebuah keluarga tidak lahir hanya karena memiliki nama yang sama, tetapi karena ada tangan yang bersedia saling menggenggam ketika perjalanan terasa berat.
Dari Perkenalan Menjadi Persaudaraan
Kehangatan terasa sepanjang kegiatan. Mahasiswa dari berbagai angkatan berbaur dalam sejumlah rangkaian kegiatan yang dirancang santai, terbuka, dan interaktif.
Bagi mahasiswa baru, momen tersebut menjadi kesempatan untuk mendengar cerita, pengalaman, sekaligus mendapatkan gambaran tentang kehidupan akademik dan organisasi dari mereka yang telah lebih dahulu menjalaninya.
Ketua Panitia Alfareza Saragih mengatakan Meurasa diharapkan tidak berhenti sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi menjadi pintu awal untuk membangun hubungan yang lebih dekat di lingkungan Sosiologi.
“Kegiatan ini kami harapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa Sosiologi untuk saling mengenal dan membangun rasa kebersamaan. Karena sebagai satu keluarga besar Sosiologi, kita tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga belajar membangun hubungan sosial di antara kita sendiri,” ujar Alfareza Saragih.
Pesan tersebut terasa relevan dengan hakikat ilmu Sosiologi itu sendiri. Jika ruang kelas mengajarkan bagaimana manusia hidup dalam masyarakat, maka organisasi dan kehidupan kampus menjadi ruang nyata untuk mempraktikkan bagaimana membangun relasi, solidaritas, dan kebersamaan.
Akademik dan Kekeluargaan Berjalan Beriringan
Tidak hanya berbicara tentang keakraban, mahasiswa baru juga mendapatkan orientasi akademik yang disampaikan Sekretaris Jurusan Antropologi dan Sosiologi, Cut Riska Al Usrah, S.Pd., M.A.
Materi tersebut memberikan pengenalan mengenai lingkungan akademik sekaligus menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru dalam memahami kehidupan perkuliahan di Program Studi Sosiologi.
Bagi HIMASOS, pengenalan terhadap dunia akademik memang tidak seharusnya berjalan sendirian.
Kehidupan mahasiswa bukan hanya tentang bangku kuliah, tugas, ujian, dan nilai. Ada organisasi, diskusi, persahabatan, pengalaman, serta proses belajar memahami kehidupan yang berlangsung di luar ruang kelas.
Kampus adalah ruang belajar yang luas; buku memberikan pengetahuan, tetapi perjumpaan dengan manusia memberikan pengalaman.
HIMASOS, Rumah untuk Tumbuh Bersama
Ketua Umum HIMASOS, Muhammad Nasri, menilai solidaritas menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus keluarga besar mahasiswa Sosiologi.
“HIMASOS bukan hanya tempat untuk menjalankan kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi ruang bagi kita untuk tumbuh dan berkembang bersama. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin membangun hubungan yang lebih dekat, sehingga setiap mahasiswa merasa menjadi bagian dari keluarga besar Sosiologi,” ungkap Muhammad Nasri.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak semata-mata berbicara mengenai program kerja dan agenda kegiatan.
Di dalamnya terdapat proses belajar menjadi manusia: belajar memimpin, mendengar, menghargai perbedaan, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, hingga belajar memahami bahwa setiap individu memiliki cerita dan perjalanan masing-masing.
Meurasa dan Semangat Meusaboh Rakan
Nama Meurasa sendiri membawa makna meusaboh rakan mahasiswa Sosiologi—sebuah semangat untuk menyatukan rakan atau teman dalam satu ruang kebersamaan.
Makna tersebut menjadi ruh kegiatan: bahwa perbedaan angkatan bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan jembatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.
Kehadiran demisioner dan alumni turut memberikan warna tersendiri. Mereka hadir bukan hanya sebagai bagian dari masa lalu HIMASOS, tetapi juga sebagai penghubung antara jejak perjalanan organisasi dengan generasi mahasiswa yang sedang melanjutkan estafet hari ini.
Sebab organisasi yang kuat bukan hanya memiliki masa depan, tetapi juga menghargai jejak yang telah ditinggalkan generasi sebelumnya.
Dari senior, mahasiswa baru dapat belajar pengalaman. Dari alumni, mereka dapat melihat perjalanan. Sementara dari teman sebaya, mereka menemukan ruang untuk bertumbuh bersama.
Menjaga Api Kebersamaan
Melalui Meurasa, HIMASOS Unimal berharap hubungan yang terbangun tidak berhenti ketika acara berakhir dan peserta kembali meninggalkan Pantai Ujong Bate.
Semangat kebersamaan diharapkan terus hidup di ruang-ruang akademik, organisasi, diskusi, kegiatan sosial, maupun berbagai aktivitas kemahasiswaan lainnya.
Pada akhirnya, Meurasa bukan sekadar tentang bertemu dan berkenalan.
Ia adalah tentang meusaboh rakan—menyatukan teman, menumbuhkan rasa memiliki, dan merawat persaudaraan.
Sebab perjalanan menjadi mahasiswa mungkin hanya berlangsung beberapa tahun, tetapi persahabatan dan kenangan yang lahir di dalamnya dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang jauh lebih panjang.
Di Pantai Ujong Bate, mereka bukan hanya berkumpul. Mereka sedang menanam benih persaudaraan. Dan dari benih itulah, keluarga besar mahasiswa Sosiologi diharapkan terus tumbuh—berbeda angkatan, tetapi satu dalam rasa kebersamaan.(SGN/Rizki)














































Discussion about this post