Banda Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Sejarah bukan sekadar deretan tanggal yang tertulis di buku pelajaran. Ia adalah jejak yang menjadi penunjuk arah, akar yang menjaga sebuah generasi agar tidak tercerabut dari identitasnya.
Semangat itulah yang dinilai tercermin dalam Lomba Bertutur Sejarah yang digelar Seuramoe Heritage. Kegiatan yang melibatkan generasi muda tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Provinsi Aceh, Dr. Iskandar Muda Hasibuan.
Menurut Iskandar Muda, kegiatan tersebut merupakan langkah kreatif dalam mendekatkan sejarah dan warisan budaya Aceh kepada generasi muda melalui pendekatan yang komunikatif, edukatif, serta relevan dengan perkembangan zaman.
“Saya mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Sejarah tidak boleh berhenti sebagai hafalan di ruang kelas. Sejarah harus menjadi pengetahuan yang hidup, dituturkan, dipahami, dan diwariskan oleh generasi muda,” ujar Iskandar Muda.
Ia menilai, literasi sejarah memiliki peran penting dalam membangun karakter sekaligus memperkuat identitas generasi muda Aceh di tengah derasnya arus informasi global.
Di tengah derasnya gelombang informasi, kata dia, generasi muda membutuhkan akar yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah.
“Generasi muda perlu mengenal sejarah daerahnya agar memiliki akar budaya yang kuat sekaligus mampu berdialog dengan dunia. Karena itu, kegiatan seperti Lomba Bertutur Sejarah perlu terus dikembangkan dan diperluas,” katanya.
Bukan Sekadar Lomba, Tetapi Investasi Kebudayaan
Iskandar Muda menegaskan, kegiatan literasi sejarah tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial. Menurutnya, diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara komunitas, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, serta lembaga kebudayaan.
Baginya, setiap cerita sejarah yang dituturkan oleh generasi muda merupakan upaya menjaga agar warisan masa lalu tidak terkubur oleh perubahan zaman.
“Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah investasi kebudayaan. Kita sedang menyiapkan generasi yang mengenal sejarah, menghargai warisan budaya, dan memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan kreatif melalui perlombaan dapat membuat sejarah lebih dekat dengan pelajar dan masyarakat. Sejarah yang sebelumnya mungkin terasa jauh dan kaku dapat dihidupkan kembali melalui suara, ekspresi, dan cara bertutur generasi muda.
Menurutnya, ketika sejarah mampu dituturkan dengan bahasa yang dekat dengan anak-anak muda, maka masa lalu tidak lagi menjadi sesuatu yang berjarak.
Sebaliknya, sejarah dapat berubah menjadi cermin yang membantu generasi hari ini memahami siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Sejarah Jangan Sampai Kehilangan Penutur
Lebih lanjut, Iskandar Muda menegaskan bahwa pelestarian sejarah merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah atau lembaga kebudayaan, tetapi juga sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat.
“Generasi muda harus mengetahui dari mana mereka berasal. Sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi bagian dari identitas dan jati diri yang perlu dijaga,” katanya.
Ia berharap Seuramoe Heritage dapat terus mengambil bagian dalam gerakan masyarakat sipil untuk memperkenalkan sejarah Aceh melalui cara-cara yang kreatif, inklusif, dan sesuai dengan bahasa generasi muda.
Sebab, menurutnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan generasinya menjaga ingatan.
“Sejarah Aceh harus terus dituturkan agar tidak hanya menjadi masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi masa depan,” pungkasnya.
Sejarah adalah jejak yang ditinggalkan masa lalu. Namun ketika jejak itu dituturkan kembali oleh generasi muda, ia dapat berubah menjadi kompas yang menuntun perjalanan masa depan.(SGN/Rizki)













































Discussion about this post