Aceh, Sinarglobalnusantara.com-
Di tengah maraknya tren bisnis digital dan usaha modern, tiga mahasiswa Universitas Malikussaleh justru memilih jalan berbeda: mengangkat kopi Gayo dan kehidupan petani menjadi pusat inovasi wirausaha berbasis edukasi dan pariwisata. Ide kreatif tersebut membawa mereka lolos pendanaan nasional Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Tahun 2026 pada kategori Jasa, Pariwisata, dan Perdagangan.
Tim tersebut dipimpin Hardi Ramalianda dari Program Studi Sosiologi, bersama Nayla Ardinawati dari Administrasi Publik dan Jihani Athifa dari Manajemen. Melalui gagasan bertajuk “Inovasi Wisata Edukasi dan Agrowisata Kopi Berbasis Pemberdayaan Petani untuk Penguatan Ekonomi Lokal Dataran Tinggi Gayo,” mereka menghadirkan konsep usaha yang tidak sekadar menjual produk, tetapi juga pengalaman dan pemberdayaan masyarakat.
Berbeda dari wisata kopi pada umumnya, konsep yang mereka tawarkan mengajak pengunjung mengenal perjalanan kopi Gayo langsung dari akarnya—mulai dari proses budidaya, pengolahan, hingga cerita kehidupan petani di Dataran Tinggi Gayo. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati secangkir kopi, tetapi juga belajar tentang budaya, kerja keras petani, dan nilai ekonomi lokal yang selama ini tersembunyi di balik aroma kopi khas Aceh tersebut.
“Bagi kami, kopi bukan hanya komoditas, tetapi identitas daerah yang harus terus diperkenalkan dengan cara kreatif dan berkelanjutan,” ujar Hardi Ramalianda.
Melalui program ini, tim mahasiswa Unimal ingin menciptakan ruang kolaborasi antara generasi muda dan petani lokal. Mereka berharap konsep wisata edukatif tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi kopi Gayo sebagai ikon daerah yang memiliki daya tarik wisata.
Keberhasilan menembus pendanaan nasional P2MW menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mampu bersaing dalam dunia akademik, tetapi juga dapat melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Di tangan generasi muda, potensi lokal tidak lagi dipandang sebagai kekayaan biasa, melainkan peluang besar untuk membangun ekonomi kreatif berbasis kearifan daerah.
Ketua Jurusan Antropologi dan Sosiologi Universitas Malikussaleh, Ade Ikhsan Kamil, S.Pd.I., M.A., menilai capaian tersebut sebagai bentuk nyata kemampuan mahasiswa dalam membaca potensi sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Malikussaleh, Rizki Yunanda, S.Sosio., M.Si., menyebut keberhasilan tersebut menjadi contoh bahwa ilmu sosial juga mampu melahirkan inovasi kewirausahaan yang solutif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Prestasi ini sekaligus menjadi pesan bahwa ide besar bisa lahir dari ruang kelas sederhana. Ketika anak muda berani menggabungkan kreativitas, kepedulian sosial, dan potensi lokal, maka secangkir kopi pun dapat berubah menjadi gerakan ekonomi yang membawa harapan bagi banyak orang.(SGN/Rizki)












































Discussion about this post