Maluku, Sinarglobalnusantara.com-
Kodam XV/Pattimura kembali menunjukkan bahwa pembangunan di wilayah perbatasan tidak melulu soal beton, jalan, atau bangunan. Di ujung selatan Maluku, tepatnya di Desa Moain, semangat TNI menyatu dengan denyut budaya masyarakat dalam penutupan TMMD Ke-128 yang berlangsung meriah, Kamis (21/05/2026).
Namun ada yang berbeda dalam penutupan kali ini. Di tengah gemuruh tepuk tangan warga dan parade budaya lokal, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto melontarkan gebrakan besar: menjadikan tradisi pacuan kuda dan pentas kerbau khas Pulau Moa sebagai agenda wisata budaya unggulan Indonesia Timur.
Atmosfer penutupan TMMD berubah layaknya festival rakyat. Warga adat, tokoh masyarakat, hingga aparat daerah larut dalam suasana penuh kebanggaan. Bukan tanpa alasan, sebab selama program berlangsung, Kodim 1511/Pulau Moa sukses menuntaskan seluruh target pembangunan hingga 100 persen.
Mulai dari rehabilitasi rumah tidak layak huni, pembangunan sumur bor, revitalisasi sumber air bersih, pembukaan akses jalan desa, hingga berbagai penyuluhan sosial berhasil diwujudkan di wilayah yang dikenal sebagai salah satu beranda terdepan NKRI itu.
“Di saat banyak daerah mulai kehilangan identitas budayanya, masyarakat Moa justru tetap menjaga warisan leluhur dengan sangat kuat. Ini adalah kekayaan luar biasa yang harus kita angkat ke level nasional,” tegas Pangdam di hadapan masyarakat.
Pernyataan itu bukan sekadar seremoni. Sebagai bukti keseriusan, Pangdam langsung mengumumkan event spektakuler yang akan digelar pada 5 Oktober 2026 mendatang, yakni Pacuan Kuda dan Pentas Kerbau Moa memperebutkan Piala Bergilir Pangdam Pattimura.
Yang membuat masyarakat semakin antusias, hadiah yang disiapkan terbilang fantastis untuk ukuran kompetisi budaya daerah. Juara pertama pacuan kuda akan membawa pulang Rp50 juta, juara kedua Rp30 juta, dan juara ketiga Rp20 juta.
Bagi masyarakat Moa, pacuan kuda bukan sekadar perlombaan. Tradisi itu telah hidup turun-temurun, menjadi simbol ketangkasan, kehormatan, sekaligus pesta rakyat yang menyatukan kampung-kampung di pulau tersebut. Begitu pula pentas kerbau yang sarat makna adat dan spiritual masyarakat setempat.
Kini, tradisi yang selama ini hanya dikenal di lingkup lokal perlahan bersiap menembus panggung wisata nasional.
Langkah Kodam XV/Pattimura ini dinilai sebagai pendekatan baru pembangunan wilayah perbatasan: membangun infrastruktur sekaligus membangkitkan kebanggaan budaya masyarakat. Jika konsisten digelar, bukan tidak mungkin Maluku Barat Daya akan menjelma menjadi destinasi wisata budaya baru di Indonesia Timur — tempat di mana derap kuda, sorak rakyat, dan semangat persatuan berpacu dalam satu arena.(SGN/Fred)












































Discussion about this post