Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Tidak semua pengabdian polisi selalu identik dengan penangkapan pelaku kriminal, razia, ataupun suara sirene di tengah malam. Di balik seragam dan tugas menjaga keamanan, ada sisi kemanusiaan yang terkadang jarang tersorot. Kisah itulah yang baru-baru ini ditunjukkan oleh jajaran Polsek Tanah Jawa di bawah kepemimpinan Kompol Banuara Manurung,SH.
Sebuah kisah sederhana, namun meninggalkan makna mendalam tentang kepedulian terhadap sesama manusia.
Berawal dari ditemukannya seorang wanita yang diduga mengalami gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah hukum Polsek Tanah Jawa tepatnya di Nagori Parhundalin, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun. Wanita tersebut tampak kebingungan, terlantar, dan tidak mampu menjelaskan identitas maupun alamat keluarganya secara jelas. Belakangan diketahui, wanita tersebut bernama Irma Yunita, warga asal Kabupaten Langkat.
Warga sekitar awalnya hanya memandang iba, namun jajaran Polsek Tanah Jawa memilih mengambil langkah nyata.
Alih-alih membiarkan Irma Yunita berkeliaran tanpa arah, personel kepolisian justru merawat, mengamankan, dan berupaya mencari tahu asal-usulnya. Selama enam hari penuh, wanita tersebut berada dalam perhatian langsung aparat kepolisian khususnya Kapolsek Tanah Jawa.
Bukan perkara mudah menemukan identitas seseorang yang mengalami gangguan mental. Berbagai pendekatan dilakukan. Mulai dari komunikasi persuasif, menggali informasi sedikit demi sedikit, hingga berkoordinasi lintas daerah dan berbagai pihak terkait. Semua dilakukan demi satu tujuan: mengembalikan Irma Yunita ke keluarganya dan kampung halamannya.
Di tengah upaya itu, para personel kepolisian tidak hanya bekerja sebagai aparat negara, tetapi juga layaknya keluarga sendiri. Mereka memastikan Irma Yunita mendapat makanan, tempat istirahat, pemeriksaan kesehatan ke Puskesmas dan perlakuan yang manusiawi.
“Bagaimanapun kondisinya, dia tetap manusia yang harus diperlakukan dengan baik, kita harus bisa seperti satu frekuensi sama dia, kalau tidak ya dia bisa marah marah, kadang kita kasih makan saja dia mau marah kalau caranya tidak tepat”, ungkap Kompol Banuara penuh empati.
Hari demi hari berlalu. Harapan untuk menemukan keluarga sempat terasa sulit. Namun berkat kesabaran dan kerja keras tanpa henti, identitas Irma Yunita akhirnya berhasil diketahui dan keluarganya berhasil ditemukan.
Momen pemulangan Yunita pun terjadi pada Jumat (22/05/2026), ketika Irma Yunita akhirnya dipulangkan kepada pihak keluarga atau je kampung kampung halaman dengan aman melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Namun di balik keberhasilan itu, terselip rasa kecewa dari Kapolsek Tanah Jawa. Menurutnya, kepedulian keluarga terhadap kondisi anggota keluarganya sendiri seharusnya lebih besar, terlebih mengingat kondisi kejiwaan yang dialami Irma Yunita.
“Kami sudah berupaya dengan berbagai macam cara untuk mengetahui keluarganya. Tetapi sangat kami sayangkan, keluarga terkesan kurang tanggap melihat situasi anak tersebut,” ujar Kompol Banuara Manurung, SH dengan nada prihatin.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama enam hari, aparat kepolisian justru menjadi pihak yang paling aktif mencari solusi dan memastikan keselamatan Irma Yunita. Situasi ini sekaligus menjadi cerminan bahwa persoalan ODGJ bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat, melainkan juga keluarga dan lingkungan sekitar.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan Polsek Tanah Jawa pun mendapat apresiasi luas. Perwakilan Kementerian Sosial Republik Indonesia , Edi Hartono, menyampaikan rasa hormat dan penghargaan atas langkah humanis yang dilakukan jajaran kepolisian.
“Kami sangat mengapresiasi cara kolaboratif, komunikatif, dan kepedulian sosial yang ditunjukkan Polsek Tanah Jawa, khususnya pak Kapolsek Kompol Banuara Manurung, dan saat ini kita akan memulangkan Yunita ini ke kampung halamannya atau keluarganya melalui Dinas Sosial Kabupaten Langkat ,” ujarnya.
Apresiasi tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan humanis aparat kepolisian masih sangat dirasakan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan sosial, kehadiran polisi yang mampu menjadi pelindung sekaligus pengayom benar-benar dibutuhkan.
Kisah ini juga menyentuh hati masyarakat sekitar. Banyak warga mengaku terharu melihat bagaimana seorang ODGJ yang awalnya terlantar tetap diperlakukan dengan penuh hormat dan kepedulian.
Tidak ada sorotan kamera besar. Tidak ada panggung megah. Hanya ketulusan dan rasa kemanusiaan yang bekerja dalam diam. Apa yang dilakukan Polsek Tanah Jawa mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi Irma Yunita, enam hari itu bisa jadi adalah momen yang menyelamatkan hidupnya. Dan bagi masyarakat, kisah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian masih hidup di tengah kerasnya kehidupan sosial saat ini.
Di saat sebagian orang memilih menghindar dari ODGJ karena takut atau jijik, jajaran Polsek Tanah Jawa justru memilih mendekat, membantu, dan memastikan Irma Yunita pulang dengan selamat.
Karena sejatinya, kemanusiaan tidak diukur dari jabatan ataupun seragam yang dikenakan, melainkan dari bagaimana seseorang memperlakukan mereka yang paling membutuhkan pertolongan.(SGN/R01)












































Discussion about this post