Bogor, Sinarglobalnusantara.com-
Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor mengajak masyarakat untuk melihat musim hujan bukan hanya sebagai fenomena cuaca semata, tetapi sebagai pengingat bahwa air sebagai sumber kehidupan memiliki dinamika yang tidak selalu dapat dikendalikan. Dalam konteks inilah, edukasi pelanggan menjadi salah satu strategi penting, bukan sekadar untuk menjaga kelancaran pengaliran, tetapi untuk membangun budaya sadar air (water consciousness) yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim dan kerentanan lingkungan.
Direktur Umum Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, Abdul Somad, menegaskan bahwa literasi kesadaran air di masyarakat adalah fondasi penting dalam ketahanan sistem penyediaan air bersih di Kabupaten Bogor. “Di tengah cuaca ekstrem, kualitas air baku sangat ditentukan oleh perilaku kolektif kita. Air adalah cermin dari lingkungan kita. Ketika ekosistem sungai tidak dijaga, kualitas air baku ikut menurun. Dan ketika masyarakat bijak menggunakan air, beban sistem pengolahan dan pendistribusian air bersih pun berkurang. Karena itu, edukasi pelanggan Perumda Tirta Kahuripan dan masyarakat Kabupaten Bogor bukan hanya anjuran teknis semata, namun juga gerakan kesadaran bersama,” ujarnya.
Berikut adalah poin-poin utama edukasi yang disebarkan Perumda Tirta Kahuripan:
1. Menampung Air dengan Prinsip Higienitas dan Ketahanan Air
Menampung air bukan sekadar tindakan praktis, tetapi bagian dari kesiapsiagaan rumah tangga dalam menghadapi ketidakpastian musim hujan. Di saat hujan lebat menyebabkan sungai membawa sedimentasi tinggi sehingga menghambat proses produksi air bersih di instalasi pengolahan, memiliki cadangan air bersih di rumah (toren atau bak penampungan) yang dikelola dengan higienis merupakan bentuk perlindungan diri dan keluarga.
2. Penghematan Air sebagai Keadaban Kolektif
Dalam musim penghujan, ironi sering terjadi: air melimpah di permukaan, tetapi kualitas air baku mengalami penurunan drastis karena longsor, lumpur, dan sedimentasi. Karena itu, penghematan air menjadi “etika publik” yang mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam mengelola sumber daya air yang semakin terbatas.
3. Pelaporan Kebocoran sebagai Bentuk Partisipasi Menjaga Aset Publik
Pipa sebagai jaringan distribusi air bersih merupakan aset publik yang menopang kehidupan ratusan ribu rumah tangga. Kebocoran sekecil apa pun artinya kehilangan bersama. Kesadaran masyarakat dalam melaporkan kebocoran menjadi kunci mengurangi kehilangan air (non-revenue water) dan mencegah kerugian bersama yang berdampak luas.
4. Memahami Sifat Air: Kekeruhan dan Mekanisme Distribusi
Pada musim hujan, air selalu mengikuti hukum alam: hujan deras menaikkan kekeruhan sungai, longsor membawa material padat, dan perubahan tekanan dalam pipa distribusi memicu material endapan terangkat. Menurut Yunarson, kekeruhan akibat faktor alam (hujan) terjadi ketika hujan membawa sedimen ke sungai, biasanya bersifat sementara, volume air tetap stabil meskipun warnanya berubah, dan dapat diatasi melalui peningkatan proses koagulasi, filtrasi, dan pembersihan filter di instalasi pengolahan air.
Melalui edukasi ini, Perumda Tirta Kahuripan berharap dapat menciptakan sinergi antara lembaga dan masyarakat dalam menjaga kelangsungan sumber daya air yang krusial bagi kehidupan sehari-hari.(SGN/Yunarson)











































Discussion about this post