Simalungun, Sinarglobalnusantara.com-
Kondisi ribuan pokok tanaman kelapa sawit milik PTPN IV Regional II yang ditanam pada Tahun 2020, tepatnya di Afdeling VIII Kebun Bahjambi sangat memprihatinkan. Tanaman yang secara geografis terletak di Nagori Baja Dolok, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara ini terpantau mengalami kerusakan serius akibat serangan hama ulat kantong serta gangguan ternak lembu yang tiap hari berkeliaran bebas di area perkebunan.

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan pada Sabtu (17/01/2026), ditemukan ratusan ekor lembu yang diduga milik warga sekitar maupun milik oknum karyawan kebun berkeliaran bebas di area Blok U, Blok V, dan Blok X. Ternak tersebut terlihat memakan daun pelepah sawit, menyebabkan sebagian besar pelepah tanaman menjadi gundul atau botak.

Ironisnya, ternak lembu dapat berkeliaran dan merusak tanaman sawit pada siang hari tanpa adanya pengawasan dari pihak perkebunan. Akses masuk ternak ke dalam areal kebun juga terkesan bebas tanpa hambatan. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi praktik koordinasi atau pembayaran “uang lapak” antara pemilik ternak dan oknum karyawan perkebunan.
Kondisi tanaman semakin diperparah dengan adanya serangan hama ulat kantong. Gejala serangan terlihat jelas pada daun sawit yang berlubang-lubang, mengering, bahkan tampak seperti terbakar.

Untuk mencegah kerugian lebih besar lagi, tanaman tersebut harus segera ditangani, pasalnya, kerusakan tanaman sawit tersebut berpotensi mengganggu proses fotosintesis, menghambat pertumbuhan, serta menurunkan produktivitas tandan buah segar (TBS) di masa mendatang.

Selain berdampak pada kerugian ekonomi perusahaan dalam jangka pendek dan panjang, keberadaan ternak liar di area perkebunan juga perlu mendapat perhatian serius guna mencegah kerusakan lebih lanjut serta menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas operasional kebun.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PTPN IV Regional kebun unit Bahjambi belum memberikan tanggapan resmi terkait langkah penanganan yang akan dilakukan serta jumlah estimasi kerugian perusahaan, upaya konfirmasi yang dilayangkan kepada M Reza Haris Siregar selaku Manajer Unit kebuh Bahjambi melalui pesan aplikasi WhatsApp pada Minggu (18/01/2026) belum mendapatkan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
(SGN/R01)












































Discussion about this post